Showing posts with label Words and Whispers. Show all posts
Showing posts with label Words and Whispers. Show all posts


Kisah sisifus manusia yang menipu dewa, merupakan sebuah legenda kuno yang berasal dari mitologi Yunani. Sisifus ini sendiri merupakan seorang raja yang dikenal licik dan suka menipu. Bahkan dia berhasil mengelabui beberapa dewa seperti Hades dan Thanatos (dewa kematian).


Hingga akhirnya ia dihukum oleh dewa Zeus untuk mendorong sebuah batu besar ke atas bukit, hanya untuk menggelindingkannya kembali ke bawah. Dan Sisifus harus mulai mendorong batu kembali ke puncak, terus menerus, berlangsung hingga selamanya.


Kisah ini banyak dibahas dalam filsafat modern, salah satunya oleh Albert Camus dalam esainya “The Myth of Sisyphus”. Camus menggambarkan Sisifus sebagai simbol absurditas hidup manusia.


Aku sendiri pertama kali membaca legenda ini dalam buku “Supernova: Akar” karya dee atau Dewi Lestari, yang mana kisah Sisifus disinggung oleh karakter utama dalam buku ini, untuk menggambarkan hidupnya. Dia percaya, kalau dia hadir di dunia cuma untuk disiksa sampai hampir mati, lalu dikembalikan hidup lagi. Begitu terus. 


(punya dua versi, pertama beli waktu SMP sekitar 10 tahun lalu, kedua beli pas udah punya uang sendiri buat beli versi lengkapnya)

Sedangkan kalau kamu, pecinta K-drama. Mungkin kamu juga nggak asing atau bahkan pernah menonton “Sisyphus: The Myth”, yang diperankan oleh Park Shin Hye. Barangkali series ini juga terinspirasi dari Kisah Sisifus. Tapi aku sendiri belum pernah nonton sih.



Kisah Sisifus dan Asal-usulnya



Sisifus adalah pendiri sekaligus raja pertama Ephyra (yang sekarang lebih dikenal sebagai Korintus). Ia digambarkan sebagai seseorang yang cerdas, bahkan memiliki kepintaran di atas rata-rata. Sebagai penguasa, saat itu sisifus mampu membangun kerajaannya dan membawa masyarakatnya hidup makmur. Namun meski dikenal cerdas, Sisifus ini juga merupakan sosok yang licik dan kurang bijaksana. Karena ia seringkali menyalahgunakan kekuasaannya. Salah satunya adalah melanggar hukum Xenia yang sakral (menghormati tamu). Dia bahkan tidak segan membunuh musafir atau tamu kehormatan Ephyra hanya untuk memamerkan kekuatannya.


Sisifus sendiri merupakan keturunan dari Aeolus, sang dewa angin. Sedangkan ibunya adalah Enarete (kadang disebut Enarete atau Enarea). Merupakan demigod, putri Deimachus dari Thessalia.


Pertama Kali Menipu Dewa


Diceritakan, Sisifus menyaksikan secara langsung penculikan Aegina yang dilakukan oleh Zeus, yang mengubah dirinya menjadi menjadi elang. Melihat hal itu, Sisifus langsung punya ide cemerlang, untuk memanfaatkan situasi tersebut. Dengan cara mendatangi Asopos (dewa sungai sekaligus ayah Aegina), dan mengatakan ia akan memberitahu siapa yang sudah menculik Aegina. Namun dengan imbalan mata air untuk kerajaannya yang saat itu sedang dilanda kekeringan.


Hal ini tentu membuat Zeus marah besar karena Sisifus sudah membongkar rahasiannya. Sehingga ia memerintahkan Thanatos (personifikasi kematian) untuk segera mencari Sisifus dan mengambil nyawanya.


Mengikat Thanatos


Ketika Sisifus didatangi oleh Thanatos, ia kembali mampu menipu dewa itu dengan mudah. Ia berpura-pura kagum dengan Thanatos dan penasaran dengan rantai yang dibawanya. Namun Sisifus justru berhasil menggunakan rantai itu untuk membelenggu Thanatos selama beberapa waktu.


Akibatnya tidak ada kematian di dunia. Perang berlangsung tanpa korban, manusia tidak meninggal dan perang terasa sia-sia.


Ares (dewa perang) marah karena peperangan jadi tidak ada artinya, maka ia turun tangan, membebaskan Thanatos, dan menyerahkan Sisifus ke Hades.


Melarikan Diri dari Dunia Bawah


Setelah tertangkap dan dibawa ke dunia bawah, Sisifus tidak habis akal karena kali ini ia bahkan mampu mengelabui Persephone (ratu dunia bawah). Dengan berkata bahwa Merope, istrinya tidak mengadakan ritual pemakaman dan itu membuat Sisifus sedih. Dengan licik, ia memohon izin agar bisa kembali ke dunia orang hidup untuk menegur istrinya. Persephone yang luluh dengan bujuk rayu Sisifus akhirnya mengizinkannya naik kembali.


Masalahnya, begitu sampai di dunia atas, Sisifus kabur bersama istrinya dan tidak pernah kembali lagi ke Hades. Ia hidup panjang, menikmati waktunya, sampai akhirnya benar-benar mati karena usianya habis.


Hukuman Abadi


Setelah berhasil mengelabui dewa berkali-kali, akhirnya Sisifus sudah tidak bisa menghindar. Ketika waktunya sudah tiba, ia akhirnya menerima hukuman abadi dari Zeus.


Sisifus harus mendorong batu besar ke atas bukit. Namun setiap kali hampir mencapai puncak, batu itu terguling kembali ke bawah, dan Sisifus harus mengulanginya selamanya.


Hukuman ini melambangkan:

kesia-siaan melawan takdir,

konsekuensi dari kesombongan manusia yang menantang dewa,

kerja tanpa tujuan yang tidak pernah selesai.



Albert Camus Menggambarkan Sisifus sebagai Absurditas Hidup



Dalam esainya “The Myth of Sisyphus (1942)”, Camus menjadikan Sisifus lambang hidup manusia modern. Hidup itu absurd: kita berusaha keras mencari makna, tapi dunia tidak memberi jawaban pasti. Seperti Sisifus yang mendorong batu sia-sia, manusia juga terus mengulang rutinitas yang tampak tidak berarti.


Tapi Camus bilang: kuncinya adalah kesadaran. Sisifus tahu nasibnya, tapi tetap mendorong batu. Di situ ada kebebasan.


Kalimat terkenal Camus: “One must imagine Sisyphus happy”, manusia bisa menerima absurditas hidup, lalu memilih untuk terus hidup dengan sikap pemberontakan (revolt).


Eksistensialisme

  • Sisifus melambangkan perjuangan individu menghadapi absurditas dan kehampaan.
  • Hukuman itu menggambarkan kondisi eksistensial: manusia bebas memilih, tapi juga terjebak dalam keterbatasan dunia.
  • Sisifus bisa dilihat sebagai cerminan kebebasan untuk memberi arti pada penderitaan.


Pandangan Moral Yunani Kuno

  • Bagi orang Yunani, Sisifus contoh hubris (kesombongan melawan dewa). Hukuman abadi adalah pelajaran bahwa manusia tidak boleh melampaui batas.
  • Simbol konsekuensi dosa: kelicikan, keserakahan, dan menipu dewa akan berakhir dengan penderitaan tak berujung.


Psikologi dan Modernitas

  • Bisa ditafsirkan sebagai simbol rutinitas kerja modern: bangun, kerja, tidur, ulang lagi tanpa akhir.
  • Dalam psikologi eksistensial, ia dipakai untuk membicarakan burnout, makna hidup, dan siklus penderitaan yang tetap harus dijalani.


Jadi tergantung perspektifnya:

  • Bagi Yunani kuno kisah ini merupakan pelajaran moral.
  • Bagi Camus, Sisifus adalah simbol absurditas dan pemberontakan.
  • Dan bagi kita sekarang, mitologi ini menjadi metafora hidup sehari-hari yang penuh kerja berulang dan pertanyaan tentang makna.


Itu pula yang aku rasakan sekarang. Menjalani hidup setiap hari, berulang dan hampir selalu sama. Membosankan. Tapi harus dilakukan. Sesederhana, malas cuma buat makan karena pasti ya, gitu gitu doang. Sampai aku pernah berpikir… coba di dunia ini ada teknologi pil makanan. Jadi cukup ambil satu pil, diemut dan kenyang seharian.



Jadi apa yang bisa kamu ambil dari kisah Sisifus ini? Coba kasih tahu aku dan diskusi bareng-bareng.

 

Pertama Kali Nyoba Bikin Riddle


Assalamualaikum....

 

Sudah lebih dari satu tahun lamanya blog ini terbengkalai, berhenti memposting cerita cerita fiksi yang biasanya idenya muncul secara absurd. Meskipun banyak sekali ide nulis yang bergentayangan di atas kepala, namun apalah daya saya cuma punya dua tangan yang tidak sanggup digunakan untuk menggapai semua keinginan.


Salah satunya untuk tetap aktif menulis fiksi di blog ini, biar tetap waras.


Seperti yang teman-teman tahu, (kalau teman-teman masih ada yang mampir ke blog ini - hiks...) saya memiliki dua blog dan pekerjaan sebagai Freelance 'Penulis Artikel' yang justru lebih sibuk ngurusin website orang daripada blog ini, sampai nggak punya waktu buat nulis fiksi.


Tapi tiba-tiba belakangan jadi tertarik banget buat nyoba bikin Riddle (sebenarnya sudah dari ribuan tahun lalu, cuma baru disempetin aja). Dan akhirnya jadilah beberapa judul Riddle yang berhasil tercipta tengah malam di kala ketidakwarasan menggerogoti jiwa hingga yang tersisa hanya asa untuk menatap jingga keesokan harinya.


FYI siklus hidup saya memang hanya eksis saat senja hingga pagi buta.


Seperti yang kita tahu, Riddle sendiri adalah Bahasa Inggris yang artinya teka teki, Riddle dibuat dengan tujuan hiburan dan biasanya memiliki banyak genre. Mulai dari humor hingga horror.


Namun sebagian besar Riddle yang kita kenal mengusung tema horror yang menyeramkan. Tidak hanya eksis dalam Bahasa Inggris, lambat laun banyak sekali Riddle berbahasa Indonesia yang bergentayangan di dunia maya.


Nah, kali ini saya akan mencoba membuat Riddle, dan karena masih belum memiliki pengalaman alias baru pertama kali mencoba, mohon maaf jika jawabannya mungkin mudah ditebak. Riddle yang saya buat memang memiliki tingkat kesulitan rendah atau easy. 


Sehingga jangan heran jika pertama kali membacanya, teman-teman bisa langsung menebak jawabannya.


Tak perlu berlama-lama lagi, mari simak Riddle pertama buatan saya ini ya. Nanti teman-teman bisa cek jawabannya di akhir cerita. 





Riddle

Judul: Kesepian


Aku tinggal bersama dengan Ayah, Ibu dan adik laki laki ku. Namun aku selalu kesepian sebab mereka tidak pernah mempedulikanku. Mereka marah dan membenciku. Setiap hari mereka mengacuhkanku, tidak ada yang mau bicara denganku, bahkan ketika aku bertanya pada mereka.


Ibu sepanjang hari menghabiskan waktunya di tempat tidur, sedangkan Ayah hanya duduk saja sambil nonton film kartun.


Hanya tersisa adik laki laki yang bisa diajak bermain, namun dikarenakan sesuatu dia tidak bisa aku ajak berbicara.




Nah, sudah mulai bisa menbak jawabannya?


Sebelum teman-teman memeriksa jawaban yang benar di bawah ini, sekadar mengingatkan dulu saya juga sempat membuat Riddle namun dibalut dengan gaya Flashfiction biar tidak terlalu singkat.


Baca Selengkapnya, jika teman-teman penasaran  Di Balik Menghilangnya Sari.


Pada Riddle tersebut sengaja saya tidak memberitahukan jawabannya, namun rupanya ada beberapa orang yang berhasil mengetahui jawabannya dengan tepat.


Ya, jawabannya adalah Ana dan Tunangan Sari lah yang sengaja menenggelamkan Sari ke salah satu Pantai yang ada di Selatan Pulau Jawa, agar mereka bisa bersama. Lalu menjadikan mitos setempat mengenai Ratu Pantai Selatan sebagai salah satu alibi untuk menutupi kejahatan yang telah mereka perbuat.


Biar tidak semakin penasaran, berikut ini adalah jawaban dari Riddle: Kesepian, cek jawaban teman-teman, benar nggak ya?





Jawaban :

 

Ibu dan Ayahnya telah meninggal dan kini hanya berupa jasad. Ibu hanya berbaring di tempat tidur sepanjang hari, sedangkan Ayah nonton film kartun, bapak bapak mana yang masih suka nonton film kartun di tv, kecuali dia tidak bisa mengganti saluran tv nya alias sudah meninggal.

 

Si aku adalah Psikopat gila yang sudah membunuh ibu dan ayahnya. 

 

Kini dia menyekap adik laki laki nya, menyumpal mulutnya untuk disiksa demi kesenangannya.


Bukan Senja atau Lelucon Semata



Sekian lama aku hanya fokus menunggu angin, sejak pagi hingga siang menjelang angin itu tak kunjung pulang

Sampai semburat kekuningan muncul malu malu di atas kepala

Di bawah sini aku mengutuk diri sepanjang hari

Tuhan… kenapa tidak ada yang tinggal

Kenapa mereka semua serupa senja yang hanya sementara

Lalu pergi meninggalkan gelap dan aku

 


Ya, aku yang di setiap masa hanya mengingat satu nama

Hingga lupa bahwa bumi terus berputar mengelilingi matahari dan bulan masih setia bersama bumi

Sedangkan bumi tetap berada di porosnya hingga akhir masa

Di poros ini lah aku menemukan jejak jejak yang terlupakan

Hingga aku tidak ingat kapan kamu mulai datang


 

Bukan angin, bukan senja bukan pula lelucon semata

Kamu satu paket lengkap yang dikirimkan oleh Tuhan di waktu yang tepat


 

Menjadi satu hadiah terindah di bulan empat dan hari yang dipenuhi dengan berita hoax

Tapi kamu nyata

Kamu ada

Dan kamu lah Imam yang ku tunggu sejak puluhan windu yang lalu


 

Banyuwangi, 1 April 2020



The Second Coming

<< Part 6 - Part 7



Tak terhitung berapa musim sudah aku menunggu angin ku kembali sembari mengenangnya di tengah kering dan tandusnya ujung hati. Masih beriman padanya meski tahu angin tidak akan pernah kembali ke tempat pertama kali dia berembus. Ya, sudah kodratnya begitu.

Tapi entah kenapa aku seolah terhenti dan menunggu di tengah persimpangan. Menunggu entah apa yang aku tunggu hingga kini meski ku rasakan samar – samar kehadirannya di ruang dalam tempat dia biasa bersemanyam.

“Biar waktu yang sembuhkan luka,” ya memang benar itu adanya. Oleh sebab itu meski masih ku rasakan kehadirannya, meski mungkin sulit untuk tergantikan dan butuh ribuan musim untuk menghapus jejaknya tertutup butiran debu yang dibawa angin di musim kering.


Aku sudah siap.

Aku sudah berani menantang hari dan menatap matahari.

Aku sudah siap menanggalkannya rasa dan iman yang sempat tertanam sementara.

Hingga dengan yakin melabelinya sebagai kenangan yang akan aku tinggalkan.


21 perjalanan baru menunggu.




Banyuwangi, 18 November 2019

Quiet

<< Part 5 - Part 6 - Part 7 >>

"Stop trying to impress people You don't even like"


“Selamat siang, mau nonton apa?”

Sapa seorang wanita penjaga loket bioskop dengan senyum ramah.

“Joker” jawabnya.

“Mau di kursi nomor berapa? Mau di depan, di tengah atau di belakang?” wanita itu menunjukkan layar monitor yang ada di bawah agar dia bisa memilih posisi dan nomor kursi.

Masih banyak yang kosong, padahal baru beberapa hari film ini diputar di bioskop, mungkin karena ini hari kerja. Sebagian besar orang masih berkutat di tempat kerjanya, sementara dirinya yang selalu punya waktu luang siang hari, tak pernah absen mengunjungi bioskop setiap hari senin atau selasa setiap minggunya.

Apalagi profesinya yang hanya sebagai guru TK membuatnya bisa langsung pergi ke bioskop begitu selesai mengajar. Nonton film memang menjadi hobinya sejak kecil, dia nonton segala genre film, mulai dari film action, romance, komedi hingga horror sendiri. Ya, dia selalu nonton sendiri.

“Yang ini aja mbak,” dia menunjuk layar monitor tepat di posisi kursi yang diinginkannya.

“G12 ya? Silahkan tiketnya! Kuponnya mau ditukar apa? Mau Teh Kotak atau Soda?”

“Soda saja!”

Harga tiket yang sebenarnya cuma 25 ribu jadi 30 ribu karena yang 5 ribu jadi kupon buat beli minuman. Lumayan.


Kondisi bioskop yang lengang membuatnya bisa fokus menyaksikan setiap adegan di dalam film, kalau weekend pasti tidak akan bisa sepeerti ini. Biasanya dipenuhi oleh muda mudi berisik yang baru kemarin kenal film, belum lagi jika ada keluarga yang piknik sambil bawa anak kecil yang berkali – kali pesan kentang goreng atau pop corn setiap kali nonton.

Itu sebabnya dia lebih suka nonton di hari senin atau selasa setiap minggunya. Selalu di hari itu, tidak pernah di hari lain. Dan selalu sendiri. Ya, sendiri.

***
Setelah sekitar 122 menit nonton, akhirnya dia keluar dari studio 2 dan menuju ke lift untuk turun ke lantai dua. Di sana ada foodcourt jadi tidak perlu mencari tempat lain untuk makan siang. Dia langsung tertuju pada salah satu stand langganan dan memesan nasi campur bali ditambah sate lilit dan es jeruk.

Dia sengaja memilih tempat yang lumayan sepi karena semakin siang tempat ini semakin ramai dengan anak SMA yang baru pulang sekolah, bukannya langsung pulang malah main ke mall dulu buat beli boba.

Dia makan sambil mengamati sekelilingnya, sepertinya hanya dia saja yang makan sendirian di tempat seramai ini. Ada yang datang bersama teman, keluarga bahkan pasangan. Tapi dia hanya mengamati sekilas untuk kemudian kembali fokus pada makan siangnya dan segera menghabiskannya agar bisa cepat sampai rumah.

Begitu selesai, dia langsung turun ke lantai satu dan membeli Roti ‘O dan kopi untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.

Di tempat parkir sudah ada motor matic putih 150cc berstiker semut merah dan angka 93 yang selalu setia mengantarnya kemana saja, mulai dari kerja, jalan jalan hingga mengantar barang, dan selalu sendiri. Ya sendiri cuma sama si putih ini.


Sesampainya di rumah dia hanya meletakkan roti dan kopi yang dibelinya tadi di meja lalu menyalakan laptopnya begitu selesai meletakkan tas dan jaket di tempat tidur. Hal pertama yang dilakukan dengan laptopnya adalah memeriksa email, ternyata hanya beberapa email dari kliennya.

Tak lupa dia juga memeriksa ponselnya, ada banyak pesan whatsapp yang belum terbaca. Di antaranya ada dari klien yang protes karena hasil pengerjaan website kurang sesuai dengan keinginannya, beberapa pesan dari nomor baru yang menanyakan lowongan menulis lagi.
Dan beberapa pesan yang sudah lama diabaikannya.

“Oalah… iya nggak apa – apa, kirain kamu udah nggak mau balas wa ku.”

Muncul satu pesan lagi.

“Semoga usahanya lancar ya, harus tetap semangat!”

- Aryo.




Banyuwangi, 16 Oktober 2019


Lampu, gelap, lampu, gelap. Dia bisa melihat bayangan wajahnya dari pantulan kaca mobil yang dinaiki saat waktu sudah menunjukkan hampir dini hari. Tak ada satu pun orang berlalu lalang, mungkin hanya ada satu atau dua warung yang masih buka dan di situ pun tak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Mungkin pemiliknya sudah terlelap atau sedang menikmati film tengah malam.

Kehidupan. Dia menarik napas panjang.

Ketika memikirkan kata kehidupan Dia jadi teringat akan dirinya sendiri. Masih hidupkah Dia hingga kini? Atau tubuh yang terdiri dari tulang terbungkus kulit ini sebenarnya telah mati. Telah hilang jiwanya entah pergi atau lenyap begitu saja.

Setiap hari hanya berjalan mengikuti kata hati. Dari satu tempat ke tempat lain. Lebih jelasnya lagi dari rumah satu ke rumah lain. Rumah rumah yang mau menampungnya, memberikan tempat berteduh sementara, kalau beruntung Dia akan ditawari makan juga .

Rumah mana saja asalkan terbuka maka Dia akan masuk tanpa tahu malu. Karena Dia sendiri sudah tidak memiliki rumah.

Rumahnya kini bagai neraka. Panas api aktif yang siap membakar siapapun yang ada di dalamnya termasuk Dia. Tak ada kenyamanan, ketentraman dan slogan "rumahku adalah istanaku" hanyalah lelucon belaka bagi Dia.

"Mau berhenti di mana lo?" teriak Bang Bono memecahkan keheningan.

"Jalan biasa aja Bang, depan pertigaan."

 "Yakin berhenti di situ? Itu kan jalan sepi banget. Emang nyawa lo ada banyak ya," kelakarnya sambil membangunkan Gugun yang tertidur di bangku paling depan saat mobil yang mereka naiki berhenti di depan pertigaan.

Sambil menguap Gugun turun dari mobil untuk menggeser kursinya dan membiarkan Dia keluar dari mobil, "Kagak ikutan sama kita aja lo? Udah malem gini mau ngelayap kemana lagi?" Gugun bertanya masih dengan mata setengah terbuka membuat anting kecil di alisnya berkelip lebih terang dari biasanya.

"Kagak Gun, gue masih ada urusan."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gugun masuk ke dalam mobil dan kemudian melaju meninggalkan Dia beridiri di tengah kegelapan sendiri.

Dia menyebrangi jalan kemudian masuk ke dalam sebuah gang sempit dan terdapat beberapa pemuda dan pria dewasa sedang main catur, ada yang main gitar sambil makan kacang. Warga setempat yang ronda tiap malam, rutin setiap ke sini Dia selalu menemui mereka.

"Mau kemana Neng? Sini aja sama abang yuk!" goda salah satu pemuda.

Tapi Dia hanya mengacuhkan mereka dan terus berjalan menyusuri gang kecil, gelap dan becek. 

Dalam hal mengacuhkan seseorang Dia memang ahlinya. Mungkin bakat ini diturunkan oleh sang Ibu yang  selalu sukses mengacuhkan Dia hampir separuh hidupnya.

Dia sudah tidak peduli apa yang orang lain katakan tentang dirinya, tentang bagaimana hidupnya. Nyaris tidak pernah di rumah, pergi pagi dan pulang dini hari. Berkeliaran tengah malam sendiri dan bergaul dengan dua musisi gagal seperti Bang Bono dan Gugun yang berpenampilan berantakan.

Minggu lalu Dia disebut pelacur oleh tetangganya dan kemarin ada yang mengatakan jika Dia merupakan pengguna bahkan pengedar narkoba. Apapun yang dikatakan orang lain terhadap dirinya, Dia sudah lama tidak mempedulikannya lagi.

"Assalamualaikum...." dengan perlahan Dia mengetuk sebuah pintu rumah berwarna biru.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dan pintu pun terbuka, "Dia," seru wanita yang Dia kenal sebagai Bu Rini. "Tengah malam begini kamu dari mana? Sengaja ke sini? Kamu baru pulang kerja ya? Apa kerja jadi pelayan kafe begitu berat nak? Lihat tubuhmu makin kurus saja. Ayo masuk, Ibu buatkan teh hangat dan indomie dulu yuk."

Dia tersenyum simpul mendapati Bu Rini yang selalu cerewet saat bertemu dengannya. Baterai wanita ini memang tak ada habisnya.

"Nggak usah Bu, sudah malam. Dia cuma mau menitipkan ini buat adik-adik," Dia menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat lalu bergegas pergi meninggalkan Rumah Panti Asuhan Kasih Bunda.


The End


Banyuwangi, 1 November 2018
 

Berhenti Di Persimpangan

<< Part 4 - Part 5 - Part 6 >>



Ketika berada di persimpangan biasanya aku bertanya pada diriku sendiri. Bukan bertanya jalan mana yang hendak aku pilih, namun bertanya apa yang akan terjadi jika aku melewati jalan yang ini dan pengalaman apa yang akan menimpaku jika aku memilih jalan yang itu.

Entahlah, hidup memang penuh dengan misteri. Yang pasti kita tidak akan mengetahui apa yang terjadi sebelum kita melewatinya. Kita juga tidak akan pernah tahu apakah kita bisa menghadapinya sebelum kita bergelut langsung ke dalamnya.

Namun manusia cenderung berhenti dan tidak melakukan apa-apa karena takut dengan sesuatu yang tidak pernah ada.

Ya, seperti yang aku lakukan saat ini. Berdiri ribuan hari di antara dua pilihan. Dua jalan. Mana kah yang harus aku pilih? Mana kah yang harus aku tempuh?

Karena tak ada jalan yang bisa membawaku mengarah padamu.



Banyuwangi, 26 Oktober 2018