Showing posts with label Flashfiction. Show all posts
Showing posts with label Flashfiction. Show all posts


Lampu, gelap, lampu, gelap. Dia bisa melihat bayangan wajahnya dari pantulan kaca mobil yang dinaiki saat waktu sudah menunjukkan hampir dini hari. Tak ada satu pun orang berlalu lalang, mungkin hanya ada satu atau dua warung yang masih buka dan di situ pun tak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Mungkin pemiliknya sudah terlelap atau sedang menikmati film tengah malam.

Kehidupan. Dia menarik napas panjang.

Ketika memikirkan kata kehidupan Dia jadi teringat akan dirinya sendiri. Masih hidupkah Dia hingga kini? Atau tubuh yang terdiri dari tulang terbungkus kulit ini sebenarnya telah mati. Telah hilang jiwanya entah pergi atau lenyap begitu saja.

Setiap hari hanya berjalan mengikuti kata hati. Dari satu tempat ke tempat lain. Lebih jelasnya lagi dari rumah satu ke rumah lain. Rumah rumah yang mau menampungnya, memberikan tempat berteduh sementara, kalau beruntung Dia akan ditawari makan juga .

Rumah mana saja asalkan terbuka maka Dia akan masuk tanpa tahu malu. Karena Dia sendiri sudah tidak memiliki rumah.

Rumahnya kini bagai neraka. Panas api aktif yang siap membakar siapapun yang ada di dalamnya termasuk Dia. Tak ada kenyamanan, ketentraman dan slogan "rumahku adalah istanaku" hanyalah lelucon belaka bagi Dia.

"Mau berhenti di mana lo?" teriak Bang Bono memecahkan keheningan.

"Jalan biasa aja Bang, depan pertigaan."

 "Yakin berhenti di situ? Itu kan jalan sepi banget. Emang nyawa lo ada banyak ya," kelakarnya sambil membangunkan Gugun yang tertidur di bangku paling depan saat mobil yang mereka naiki berhenti di depan pertigaan.

Sambil menguap Gugun turun dari mobil untuk menggeser kursinya dan membiarkan Dia keluar dari mobil, "Kagak ikutan sama kita aja lo? Udah malem gini mau ngelayap kemana lagi?" Gugun bertanya masih dengan mata setengah terbuka membuat anting kecil di alisnya berkelip lebih terang dari biasanya.

"Kagak Gun, gue masih ada urusan."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gugun masuk ke dalam mobil dan kemudian melaju meninggalkan Dia beridiri di tengah kegelapan sendiri.

Dia menyebrangi jalan kemudian masuk ke dalam sebuah gang sempit dan terdapat beberapa pemuda dan pria dewasa sedang main catur, ada yang main gitar sambil makan kacang. Warga setempat yang ronda tiap malam, rutin setiap ke sini Dia selalu menemui mereka.

"Mau kemana Neng? Sini aja sama abang yuk!" goda salah satu pemuda.

Tapi Dia hanya mengacuhkan mereka dan terus berjalan menyusuri gang kecil, gelap dan becek. 

Dalam hal mengacuhkan seseorang Dia memang ahlinya. Mungkin bakat ini diturunkan oleh sang Ibu yang  selalu sukses mengacuhkan Dia hampir separuh hidupnya.

Dia sudah tidak peduli apa yang orang lain katakan tentang dirinya, tentang bagaimana hidupnya. Nyaris tidak pernah di rumah, pergi pagi dan pulang dini hari. Berkeliaran tengah malam sendiri dan bergaul dengan dua musisi gagal seperti Bang Bono dan Gugun yang berpenampilan berantakan.

Minggu lalu Dia disebut pelacur oleh tetangganya dan kemarin ada yang mengatakan jika Dia merupakan pengguna bahkan pengedar narkoba. Apapun yang dikatakan orang lain terhadap dirinya, Dia sudah lama tidak mempedulikannya lagi.

"Assalamualaikum...." dengan perlahan Dia mengetuk sebuah pintu rumah berwarna biru.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dan pintu pun terbuka, "Dia," seru wanita yang Dia kenal sebagai Bu Rini. "Tengah malam begini kamu dari mana? Sengaja ke sini? Kamu baru pulang kerja ya? Apa kerja jadi pelayan kafe begitu berat nak? Lihat tubuhmu makin kurus saja. Ayo masuk, Ibu buatkan teh hangat dan indomie dulu yuk."

Dia tersenyum simpul mendapati Bu Rini yang selalu cerewet saat bertemu dengannya. Baterai wanita ini memang tak ada habisnya.

"Nggak usah Bu, sudah malam. Dia cuma mau menitipkan ini buat adik-adik," Dia menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat lalu bergegas pergi meninggalkan Rumah Panti Asuhan Kasih Bunda.


The End


Banyuwangi, 1 November 2018
 
"Fire" oleh Ainuen Nadifah, Endach Septiani,  Faranggi Eva Lutvika.


"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tidak masalah menjadi pecundang."

Seorang lelaki dengan rambut merah bangun dari tidurnya. Dia memegang kepala yang berdenyut sakit. Ia berusaha mengumpulkan nyawa secepat mungkin. Lalu secara gusar mencari asal suara tadi.

Tidak ada seorang pun di sekelilingnya. Hanya ada dia. Dan beberapa benda semisal sepatu, jaket, baju kotor, berserakan di lantai.

Kepalanya kian berdenyut sakit. Lelaki itu mengerang. Menutupi kepala dengan bantal. Ini efek semalam. Minuman haram itu. Ah, menjadi candu tenyata setelah dua tiga kali mencoba. Kini, setiap malam kalau tidak meneguk cairan itu, terasa hampa hatinya. Ia tak bisa hidup dengan cairan itu. Meski di setiap paginya, ia sukses tetsakiti cairan tersebut.

Setelah agak baikan, dia bangkit duduk. Berdiri. Berjalan menuju kamar mandi. Keluar dari sana, wajah lelaki tersebut basah.

Dengan langkah diseret, ia menuju jendela. Sebelum benar-benar sampai, matanya diganggu sebuah benda yang terletak di nakas. Ia menghampiri benda itu.

Sepotong baju koko, peci, dan kain sarung. Serta terdapat sobekan kertas kecil di sana.

'Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang Kyai, Nak.'

Matanya panas. Memerah. Dan setitik air menuruni rahang kerasnya.

"Aku terlalu hina ...."

Dia memandang pakaian itu lama. Sepotong ingatan seseorang mengatakan kaliamat menohok melewati benaknya.

"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tak masalah untuk menjadi pencundang," secara tiba-tiba menggaruk rambut frustrasi. Dan membuang pakaian tadi ke lantai.

Tangannya meraih laci meja. Mencari sesuatu.

Ketemu!

Sebuah korek! Korek api.

Ia memandang bergantian korek dan pakaian tersebut.

Sepotong senyum setan terbit. Huwahahahahaha.

Bakkar!!!

"Tidak masalah menjadi pecundang. Bukan begitu?" Senyumnya kembali terbit.

Dipandangnya korek api ditanganya. Dipatikkan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat. Sialan! Kepalanya terlalu sakit sampai tanganya tak mampu mematikkan korek api.

Dia terduduk. Kepalanya terasa semakin sakit. Frustasi. Apa ini? Cairan di pipinya? Cih!

Dengan langkah tergesa lelaki itu menuju kamar mandi, membasahi wajahnya, mengganti pakaianya. Dan pergi.

Ia butuh pelampiasan. Suatu kebisingan. Membakar sesuatu (mungkin). Langkahnya tergesa sepanjang jalan. Pikiranya berkecamuk. Ia bisa gila lama lama.

Di jalan yang dia bisa hanya meludahkan kata-kata buruk. Meracau. Menggila.

"Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang kyai, Nak."

Kata-kata buruk kembali terludah dari mulutnya.

Berkeliaran sepanjang jalan, hingga matahari terbenam. Menjalaninya seperti gelombang, hanya mengikuti dan tak punya pendirian.

"Hallo," seorang wanita dengan hijab berwarna biru tiba-tiba menyapanya.

"Assalamu'alaikum.." lanjut wanita tersebut, tersenyum.

Seketika dia menoleh ke arah asal suara dan terdiam untuk beberapa menit hingga akhirnya keluar sepatah kata dari mulutnya.

"Waalaikumsalam..."

Fiuh... mulut kotornya masih pantaskah mengucapkan salam.

"Abang mau kemana? Ke Masjid, yuk! Sudah hampir masuk shalat magribh nih," ujar wanita itu dengan senyuman menawan. Oh matahari sudah mulai terbenam rupanya. Dan wanita itu masih berdiri di hadapannya menunggu jawaban yang tak kunjung terlontar dari bibir pria itu. Dia sibuk memperhatikan senja.

"Kalau begitu saya duluan ya, Bang."

Wanita itupun berlalu dan dia hanya bisa memandanginya hingga bayangannya menjauh dan menghilang. Dia membalikkan badan, berjalan ke arah berlawanan dengan tujuan wanita itu. Dia berjalan cepat, setengah berlari. Hingga sampai di sebuah gedung tua yang dijaga oleh dua pria berwajah suram.

Dia masuk ke dalam gedung itu dan melewati kedua penjaga yang salah satunya menepuk bahu pria itu dan menghentikannya di ambang pintu.

"Bagi gue rokok dong, Yok!"

"Kagak ada Bang," ujarnya sambil melepaskan tangan penjaga itu kemudian masuk ke dalam.

Ternyata di dalam sudah mulai ramai. Riuh oleh suara debuman musik yang menghentak membikin kuping sakit. Tapi anehnya tempat ini banyak disukai terutama oleh orang-orang hilang arah seperti dirinya.

Dia melihat ke sebelah kiri, terdapat sebuah meja panjang yang dijaga oleh tiga pemuda yang siap menyediakan minuman yang akan membuatnya mabuk kepayang. Di sebelah kanan sudah dipenuhi orang-orang lupa diri. Mereka menari, laki perempuan meliuk-liukkan badan seperti kesurupan ular. Tak peduli tabrak sana tabrak sini yang penting happy. Mereka seperti sedang terbakar oleh sesuatu. Membara. Panas.
Datang ke sini semua orang dengan ketakutan.

Datang ke sini semua orang yang patah hati. Sepanjang malam dengan tangan kosong. Dengan langkah berbaris. Kita semua melompat. Kita semua menggila. Pria itu mulai bergabung dan dalam sekejap kehilangan dirinya dalam kebisingan. Membakar seolah dirinya api yang menyala dan tak mampu dipadamkan.

Angkat tanganmu dan buat kebisingan. Kita bakar di sini. Mari kita bakar di sini bow wow wow. Mari kita bakar.

DUAR....
Terdengar suara ledakan keras yang tidak diketahui asalnya. Asap putih tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan yang menyelimuti mereka yang sedang lupa diri. Tak ada yang peduli. Semua masih menari dan menyanyi la la la. Terbakar semangat membuat mereka lupa.

Hingga ketika panas itu menjadi lebih realistis. Dan bakar menjadi kata yang nyata. Ketika mereka sadar api sudah di mana-mana. Tinggal sejengkal menjilati tubuh mereka. Barulah mereka sadar dan berlari keluar. Sementara pria itu masih berusaha menjernihkan pikirannya. Dia pikir api itu hanya halusinansi semata. Karena dia sedang merasakan semangat memuncak, membara dan api membakar dirinya hingga tiada tersisa apa.

The End


Ini adalah cerpen kolaborasi ketiga aku bersama Ainuen dan Endach. Kok sering banget sih, bikin cerpen kolaborasi. Yup... kami yang tergabung dalam organisasi Blogger Muda (yang muda yang berkarya) padahal anggotanya cuma tiga. Memiliki jadwal rutin setiap minggu untuk membuat cerpen kolaborasi yang temanya mengambil dari sebuah lagu. Setelah kemarin kami menggunakan lagu favoritku "Beauty and The Beast" yang merupakan soundtrak dari film dengan judul yang sama. Kali ini kami mencoba membuat cerpen dari lagu favorit Ainuen, yaitu "Fire" yang dinyanyikan oleh boyband asal Korea Bangtanboys atau BTS.

Kisah yang sudah setua waktu, berputar kembali.

Tersenyum. Tertawa. Mengingat masa lalu membuatku ingin menceritakan pada kalian. Sebuah kisahku dan dia.

Jadi begini, kisah dimulai saat aku bertemu dengannya di depan toko permen. Dia memegang dua permen lolipop. Permen itu gonta-ganti menjamah lidahnya. Tampak cairan hijau mengalir keluar dari dua lubang hidungnya. Ingus. Dan aku bisa melihat, tidak sengaja ia menjilat ingusnya sendiri.

Pasti rasanya ... asin-manis.

Aku melihat dia sudah terlebih dahulu merasa ilfil. Lelaki itu mendapat nilai negatif dariku.

Jorok!

Dan ...

Ada tanda lahir besar di pipinya. Gigi ompong. Berkacamata. Rambut belah tengah.

Dia jelek.

Sangat jelek.

"Hai cantikk."

Dia menyapaku? Menyapaku?

"Hai ...," ketakutan.

"Ini untukmu," dia menyerahkan satu lolipopnya padaku.

Aku menerimanya dengan ragu. Hanya berusaha bersikap sopan  dengan menghargai pemberian orang.

"Mau nggak jadi pacarku?" tidak ku sangka-sangka di mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik tubuhnya.

Mata ini membulat. Dan bibir pun melongo membentuk huruf 'O'.

"Hey! Umur kita masih 7 tahun."

Setiap mengingat kisah tua itu, aku selalu ingin tertawa. Pertemuan pertama yang menggelikan. Seenaknya menyatakan perasaan pada orang. Padahal kita sama sekali belum mengenal.

Dan ... namaku bukanlah cantik.

Tapi dia mengatakan kalau aku cantik. Itu sebabnya dia menyatakan cinta padaku.

Kulihat dia tertawa. Hanya sedikit perubahan dari caranya tertawa. Yakni bertambahnya lesung kecil di dagu.

Kisah itu entah kenapa terputar kembali dalam benakku. Serampangan aku menceritakan pada dia "si penjilat ingus"

Dia tertawa lagi, kemudian memparodikan caranya menjilat ingus. Kali ini aku tak merasa jijik, sedikit ilfil memang. Namun lucu saja melihatnya.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku 10 tahun lalu," ucapnya, berhenti dari candanya.

"Pertanyaan yang mana?" tentu saja aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Tapi aku merasa tak ingin membalasnya.
Terlalu picik memang, mengingat sejujurnya aku kurang menyukai penampilanya saat ini maupun 10 tahun yang lalu.

"Kalau kamu liat ini, pasti kamu ingat," ucapnya dengan merogoh tas selempangnya.

Permen lolipop.

Lalu cerita tua itu seolah kembali terulang ketika dia membuka bungkus lolipopnya dan mulai menjilati setiap inci lempengan kecil berwarna pelangi. Namun kali ini tanpa ingus seperti kisah tua itu.

Reaksikupun berbeda sudah tidak memandangnya dengan perasaan jijik aku justru tertawa melihat tingkahnya.

Kami sama sekali bukan teman, hanya kebetulan bertemu tanpa diduga-duga. Memulai kembali kisah lama. Meskipun harus ku katakan, dia tidak setampan pangeran dalam kisah dongeng yang sering ku baca. Datang tanpa kuda putih dan keretanya.

Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kehadirannya menghidupkanku kembali, memberi setitik cahaya seperti lilin-lilin kecil di tengah goa yang mulai menghampa.

Kehadirannya mengisi salah satu ruang kosong di hatiku, tapi yang aku tahu bukanlah dia si buruk rupa. Melainkan aku.

"Bella... Waktunya minum obat," Ibuku muncul dari belakang.

Sebelum menarik kursi roda yang kini berperan menggantikan kedua kakiku yang hilang, Ibu melihat ke arah pria itu. Melemparkan senyum lalu membawaku masuk ke dalam rumah.

Akankah dia mampu menerimaku?

Ini merupakan cerpen kolaborasi dari penulis hebat dan terkenal sejagad hmmm sejagad apa ya? Ya pokoknya terkenal lah. Tergabung dalam kelompok menulis yang bernama #BloggerMuda. Sebuah grup yang isinya cuma bertiga. Eksklusif hanya untuk tiga orang saja. Lagian siapa juga yang mau gabung ya?!!!

Terimalah persembahan dari kami bertiga. Aku yang paling unyu sendiri.



Karya: Anggi, Ainuen, Endach


Seorang lelaki memberikan sejumlah uang pada pedagang. Ia mengambil barang yang baru saja dibelinya. Kemudian menenteng barang tersebut dengan senyum bersinar bahagia.

Ponsel di saku celana bergetar. Lelaki itu mengambilnya, kemudian membaca pesan yang tertera di sana.

"Awas!! Jangan selingkuh!"

Itu adalah kekasihnya. Lelaki tersebut tersenyum makin bahagia.

Jauh di sana, kekasih lelaki itu sedang mencari ilmu. Tepatnya pada negeri orang. Jarak terbentang amat jauh. Sungguh menyiksa masing-masing hati.
Selain menyiksa, jarak itu sedang menguji kesetiaan mereka.

"Jangan lirik wanita lain!!"
Satu pesan baru masuk.

Lelaki itu melirik sekitar  kerumunan pasar. Banyak wanita di sana. Tapi ... anehnya, kenapa semua wanita berwajah sama dengan gadisnya?

Tak luput dari pandanganya lelaki-lelaki di pasar itu pun memiliki wajah yang begitu serupa denganya.

Lalu bagaimana ia dan kekasihnya bisa menjalin hubungan jika wanita dan lelakinya memiliki wajah yang serupa?

Ah.. jangan tanyakan itu padanya. Karena ia tak punya jawabanya. Tapi yang pasti ia begitu mencintai sifat posesif wanitanya.

Posesif. Benar. Ponsel yang masih di pegang lelaki itu bergetar lagi. Kekasihnya.

"Jangan selingkuh!"

Lelaki itu tertawa, memandang sekeliling lagi. Wanita-wanita itu memang memiliki wajah yang serupa dengan kekasihnya. Tapi tidak memberikan perasaan yang serupa seperti yang bisa kekasihnya lakukan.

Dipandangnya gelang couple berwarna hijau ditanganya.

Lelaki itu tertawa lagi mengingat pesan yang dikirimkan gadisnya.

Kemudian dia melanjutkan perjalanan. Melewati jalanan becek dan gang sempit di antara lapak pedagang. Bau sayur, ayam dan amisnya ikan tidak mengganggu penciuman. Ia bahagia menenteng sekantung penuh belanjaan yang siap ia bawa pulang.

Begitu keluar dari pasar, ia melambaikan tangan ke arah angkot untuk kemudian masuk ke dalam, duduk di kursi depan sebelah pak supir. Dia mengamati jalanan yang mulai ramai. Berbanding terbalik dengan keadaan saat pagi tadi dia berangkat ke pasar.

Lamat-lamat matanya tenggelam dalam aspal yang tergilas roda besar, berputar untuk mengantarnya ke tempat yang ia mau. Hingga akhirnya si supir memberi isyarat ia sudah sampai di tempat.

Lelaki itu turun dari angkot dan berjalan ke arah rumah berwarna biru. Dengan pagar setinggi tidak lebih dari pinggang, ia menggesernya perlahan lalu masuk ke dalam.

"Sayang... Kok lama banget sih," seru seorang wanita yang berdiri manja di ambang pintu.



"Hei, mau kemana?" teriak seorang lelaki paruh baya yang baru keluar dari rumah menuju sawah.

Tapi perempuan itu hanya menoleh sekilas kemudian berlari kecil melewati jalan setapak yang berakhir di pinggir kali. Tanpa alas kaki gadis itu berjalan menyusuri aliran kali hingga tiba di tempat air bermuara.

Dia memandangi cahaya jingga yang muncul malu-malu dari arah timur. Sementara debur ombak membuatnya ragu untuk mendekati garis pantainya.

Barangkali dia biang keladi yang membuat perempuan itu mengalami kehilangan yang luar biasa. Kenapa kamu begitu ganas? Begitu murka ketika kami mengarungi setiap buih untuk mencari nafkah? Mungkin hal ini juga akibat tingkah laku manusia.


"Jaga diri baik-baik ya," ujar pria itu sebelum menaikkan jaring dan beberapa pancing ke atas perahu.

Kamu yang harusnya jaga diri, batin gadis itu.

"Ombaknya sedang besar, tunggulah beberapa hari lagi."

"Aku akan baik-baik saja, aku akan kembali secepatnya."

"Setiap orang yang hendak pergi pasti mengatakan hal yang sama, baik-baik saja dan akan kembali secepatnya, padahal tidak ada yang pernah tahu."

Sebelum pergi, pria itu sempat mengecup keningnya untuk kemudian menghilang dibawa ombak hingga kini tidak pernah kembali.


Kini perempuan itu bisu, bungkam seribu bahasa semenjak pria yang baru satu sasi menjadi imamnya pergi, dia tidak percaya untuk bicara pada manusia.

Setiap menjelang pagi dia menyambangi garis pantai, bertanya pada buih bertanya pada karang. Kenapa pria itu tidak pernah kembali pulang?

Tidak ada yang menjawabnya. Semuanya diam, semuanya bisu. Sama seperti dirinya.

Bahkan pagi pun, tak mau bicara dan memberi tahu kenapa.




Baru saja piring terakhir dia letakkan di meja kayu samping tempat dia berjongkok menghadap seember penuh air bercampur busa. Setumpuk piring kotor mampir lagi.

Dia menggulung lengan kemejanya lebih tinggi agar tidak basah terkena cipratan air bekas cucian. Peluh tak terasa menetes membasahi dahi hingga mengalir turun ke dagu. Refleks dia mengusap wajahnya yang meninggalkan bekas busa.

Entah apa yang akan dikatakan Ibu jika melihatnya saat ini.

"Sarjana kok kerja jadi tukang cuci piring," mungkin itu yang akan beliau katakan.

Sejak kecil dia diajarkan untuk bermimpi. Bermimpi setinggi langit dan terbang hingga lupa batas dan tempat kaki berpijak. Sejak kecil dia terbiasa hidup dengan meminta. Meminta apa saja dan bakal cemberut hingga mogok makan jika keinginannya tidak terpenuhi.

Seperti ketika dia merajuk meminta sepatu baru, padahal yang lama masih layak. Tapi karena melihat salah satu temannya dibelikan sepatu baru, tidak ada salahnya jika dia juga meminta.

"Sabar yo, Le. Bapak masih belum dapat uang. Besok kalau uangnya sudah ada pasti Bapak belikan," rayu Bapaknya yang baru saja pulang kerja, masih dengan peluh dan aroma matahari, apek yang membuatnya dulu enggan mendekat.

"Bapak bau," begitu dulu katanya.




"Ini upah kamu hari ini."

Dia menerima uang dua lembar lima ribuan dan beberapa lembar uang dua ribu dengan perasaan tidak percaya.

"Terimakasih Bu, terimakasih," ucapnya sambil menunduk-nunduk beberapa kali sebelum meninggalkan rumah makan padang dan berjanji besok akan datang lagi.

Meski tidak seberapa jumlahnya, namun uang tersebut adalah hasil kerja kerasnya, hasil keringat pertama kali. Dan baru dia mengerti ternyata sesusah ini mencari uang.

Dia pikir dengan berbekal gelar sarjana S1 dia akan mudah mendapat kerja, menjadi sukses dan kaya raya. Tapi ternyata mimpinya tak semudah yang dia bayangkan.

"Ternyata mencari uang tidak gampang," bisiknya lirih.

Dia melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain layangan di trotoar. Dia kembali teringat masa kecilnya.




"Usum... Usum layangan. Bola di gelas dienggo bendetan. Aran ganjur dowo-dowoan. Sangkrahe carang wit witan."

Begitu dulu Bapaknya suka bernyanyi sambil merangkai bambu menjadi sebuah layangan.

"Bintang, kamu harus punya mimpi setinggi langit. Tapi sebelumnya kamu harus menjadi seperti layangan ini, seimbang agar bisa terbang," ujar Bapaknya sambil menimbang sebilah bambu dengan sebuah benang sebelum merangkainya menjadi layang-layang.

Dulu dia tidak mengerti maksud dari perkataan Bapak. Yang dia tahu, layang-layang tidak bisa terbang sendiri. Butuh seseorang untuk menerbangkannya, memegangi benang agar tetap melayang di angkasa. Dia ibaratkan Bapak sebagai benang yang diulur dan ditarik, kapan dia akan meninggi tergantung seberapa panjang benang mampu teruraikan.

Itu sebabnya setiap hari yang dia lakukan adalah menarik benang dengan asumsi dia akan terbang tinggi. Dia meminta uang atau apa saja dengan gampang tanpa peduli peluh yang diderita Bapak untuk memenuhi semua keinginannya. Itu pun masih sering merajuk dan menjuluki Bapak payah dan tidak berguna.

Kini baru dia sadar, mencari uang tidak semudah seperti yang dia pikirkan. Jangankan untuk lulusan S1 sepertinya. Lantas bagaimana dengan Bapak yang selama ini dia jadikan ATM berjalan.

Atau benang yang dengan sesuka hati dia tarik sepanjang yang dia mau setinggi yang dia impikan. Sehingga ketika sadar benang itu telah terurai habis dan layang-layang tak mampu lagi terbang. Di mana layang-layang itu akan tersangkut?

Tak ubah seperti layang-layang terbang tak tentu arah, kini bahkan dia tersesat dan melupakan nasihat Bapak tentang keseimbangan. Bukan hanya tentang benang. Untuk terbang tinggi kamu butuh keseimbangan untuk bisa terbang, begitu kata Bapak.

Sekarang dia mengerti apa yang dimaksud Bapak. Tentang keseimbangan. Untuk terbang tinggi dia butuh dirinya sendiri. Keseimbangan antara kekuatan, usaha dan doa. Dia harusnya terbang untuk melihat ada begitu banyak yang mendukungnya dan bahagia melihat dia berada di posisi tertinggi. Bukan menjadi anak langit yang lupa bumi tempatnya berpijak lantas dengan seenak jidat mengulur dan menarik benang hingga titik penghabisan.

Kini dia mengerti, betapa susahnya bekerja mencari uang untuk memenuhi hidupnya. Lalu bagaimana dengan Bapak yang selalu dihardik untuk meminta.

Kini baru dia mengerti.





Tiba-tiba saja Sari menghilang tanpa jejak. Rupa tiada. Jejaknya tenggelam di pasir hitam tak berbekas. Samar-samar seorang pria berbisik sendu di kuping Ana sambil menunggu matahari terbenam. Di bibir pantai. Tempat Sari menghilang.

"Tidak mungkin," teriak Ana diiringi debur ombak. Marah. Menghantam karang yang menjorok jauh ke tengah lautan.

"Mau bagaimana lagi, cuma ini jalan satu-satunya."

"Aku tidak setega itu, Sari sahabatku," Ana meremas krudung hijau milik Sari yang ditemukan pagi tadi sebelum dia menghilang.

"Kita tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kan?"

"Bagaimana kalau Sari masih hidup? Bagaimana kalau tim SAR menemukannya dan dia baik-baik saja?"

"Tidak mungkin. Ombaknya terlalu ganas dan banyak karang di tepian pantai ini. Mustahil dia bisa selamat."

Ana terdiam. Kembali teringat pipi merah Sari yang ketika sedang marah Ana akan memanggilnya tomat busuk. Padahal dia lah yang busuk. Bagaimana reaksi Sari ketika mengetahui semua kebenaran ini. Pasti lebih ganas daripada ombak dan buih di pantai.

"Maka dari itu Sari harus menghilang," pria itu mengambil krudung hijau dari tangan Ana dan berlari mengibarkannya ke udara. Seolah memberi tanda bahwa Sang Ratu ada di balik penyebab menghilangnya Sari.

Pria yang menawan, batinnya. Pertama kali Ana bertemu pria itu ketika Sari memperkenalkannya sebagai calon suami.






Ilustasi oleh Istiana Fitriani



Tohjaya masuk ke sebuah ruangan gelap yang sudah mulai ditinggalkan bertahun-tahun silam. Ada sebuah pembaringan tempat sang ayah meregang nyawa sebelum mengucapkan sebuah nama.

"Mpu Gandring."

Lalu keris itu dihunuskan ke ulu hati dan dia pun tertawa puas.

Selagi tahta telah direngkuh dan dia berhasil menjadi orang nomor satu di Singhasari. Padahal ayahnya yang telah membawa Tumapel menjadi sebuah kerajaan terbesar di tanah Jawa. Lantas dia yang berjalan menaiki tahta.

Dengan sebilah keris bekas darah sang ayah yang selalu diselipkan di pinggang. Kebanggaan luar biasa karena telah behasil membungkam ayahnya dan mengirimnya ke neraka.

Haruskah Tohjaya diam saja?

"Balaskan dendam ayahmu! Bunuh Anusapati!" bisik Pranaraja, pembantu setianya.

Yang ada di kepalanya kini memang hanyalah membunuh Anusapati dan membalaskan dendam sang ayah. Setelah itu Tohjaya bisa menjadi Raja. Tahta itu adalah miliknya.

"Bukan, tahta itu bukan milikmu. Kamu hanyalah putra dari seorang selir," ujar Ken Umang setiap kali Tohjaya berbicara mengenai tahta.

"Ayahku yang memimpin pemberontakan Tumapel dan mendirikan Singhasari dengan keringat dan darah. Aku adalah putra Ken Arok, darah dagingnya. Sementara Anusapati hanyalah putra Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Dia tidak berhak atas tahta Singasari."

"Anusapati membunuh ayahmu karena dendam masa lalu. Sebab ayahmu yang telah membunuh Tunggul Ametung. Jangan membalas nyawa dengan nyawa. Dendam bukanlah sebuah penghabisan melainkan hukuman yang baru saja dimulai."

Sintru, Ken Umang memandangi api yang menari meliuk-liuk, seolah sedang berpesta dan merayakan duka keluarganya. Seperti api, dendam itu memang menari di awal, tapi terbakar habis sesudahnya. Jadi tinggal pilih, memadamkan api atau terbakar habis bersama api.

***




Pranaraja menunjuk Anusapati yang sedang berada di tengah kerumunan ramai, sekelompok orang membentuk lingkaran mengerumuni sebuah pagar yang terbuat dari bambu berbentuk melingkar. Sementara dua ayam jago sedang menunjukkan siapa yang paling kuat di antara mereka.

Anusapati terlihat sangat semangat meneriakkan nama ayam jagoannya yang memang tersohor di seluruh Singhasari. Setiap sore yang dilakukan Anusapati hanya bermain sabung ayam. Raja macam apa itu? Pikir Tohjaya.

Tohjaya berjalan mendekat ke arah Anusapati. Begitu larutnya dia tidak menyadari kedatangan Tohjaya.

Selalu diselipkan di pinggangnya. Keris Mpu Gandring yang masih memiliki bekas darah sang ayah. Merangsek masuk ke dalam kerumunan, Tohjaya mengambil kering Mpu Gandring dari pinggang Anusapati yang sudah larut dalam permainan adu cakar dan jalu.

Hanya dalam hitungan detik, keris itu menancap tepat di ulu hati Anusapati. Tepat di tempat dulu Anusapati menghunus keris yang sama pada tubuh ayahnya.

Seketika riuh, semua orang berteriak melihat Anusapati bersimbah darah dengan sebilah keris dan Tohjaya yang tertawa bahagia.



Ini tantangan baru bagi saya. Biasanya sebagai orang yang sederhana saya hanya akan menulis isi di kepala dan menuangkannya. Tanpa beban. Karena saya memang tidak suka terikat pada suatu hal. Saya benci komitmen. Tapi Ana membawakan sebuah gambar dan saya harus mendeskripsikan gambar tersebut ke dalam sebuah certa. Susah. Tengok saja gambarnya.





Setiap kali dia memandang aliran sungai kecil di belakang rumahnya, dia jadi teringat sesuatu, terharu, mewek. Karena mengingatkannya akan sesuatu. Bukan karena sungai kecil atau yang biasa disebut kali tempat ibu-ibu nyuci dan anak kecil berak, itu yang mengingatkannya pada masa lalu.

Tapi kali tempat pertama kali dia tersadar dalam mimpi. Mimpi? Mimpikah yang semalam terjadi? Belakangan ini Fajri mengalami kejadian-kejadian janggal yang tak masuk nalar. Seperti mimpi. Tapi nyata. Seperti nyata sebab setiap bangun dia berada di tempat berbeda. Begitu bangun dia langsung melipir ke kali. Beberapa kali Sari atau Ali memergokinya berusaha membangunkannya, tapi dia tetap berjalan. Ngelindur. Begitu terus tiap pagi.

Seperti mimpi tapi nyata, seperti nyata tapi dia selalu kehilangan kesadaran dan terdampar di pinggir kali. Tiap malam ketika dia beranjak ke peraduan mimpi dengan piamanya. Tiap malam tidak ada pertanda aneh. Tiap malam selalu nyaman. Tertidur pulas. Tapi ketika pagi menjelang. Dia bangun dari mimpi yang tetap seperti mimpi. Dia terbangun menjadi sosok lain. Kecil. Tubuhnya tiba-tiba mengkeret. Tanpa busana. Dia bahkan tidak bisa ngomong. Cuma berbaring penuh air seni yang membasahi sekujur tubuhnya. Pesing. Beberapa kali dia mencoba berteriak meminta tolong, tapi suaranya tak mau keluar, tertanam dalam hati. Yang keluar Cuma semacam isakan. Kemudian muncul satu sosok familiar yang tatapan matanya sudah sangat dia hafal. Wajahnya yang bulat bak rembulan memenuhi matanya, seperti gambar di zoom. Penuh dan lebar.

“Cup cup cup. Jangan nangis sayang,” dengan cekatan wanita itu membersihkan tubuhnya. Membasuhnya. Melumuri tubuhnya dengan minyak kayu putih. Memakaikan bedong. Terakhir menggendongnya. Mendekap tubuhnya. Hangat.

Kemudian dia kembali terlelap. Bangun. Tahu-tahu sudah ada di pinggir kali. Linglung. Dia tidak ingat apa yang terjadi. Saat tidur-mimpi-bangun dia berada di pinggir kali. Tapi benarkah itu mimpi? Berkali-kali Fajri mempertanyakan namun tak ada yang terjadi kecuali mimpi-mimpi itu berulang setiap hari.

Kejadian-kejadian tersebut berulang terus tiap hari. Hampir sepekan ini dia tidur dan bangun di tempat lain. Dan puncak kesadarannya selalu di pinggir kali belakang rumahnya. Seperti mengulang fase pertumbuhan dari bayi hingga dewasa. Berjalan begitu cepat setiap malam. Kemarin dia bermimpi merangkak, semalam dia berusaha berjalan. Dan selalu ada sosok sama. Sosok yang telah lama dirindukannya.

“Ibu,” bisiknya, “Ibu,” bisiknya lagi. Kali ini dengan mengeja sepenuh hati. Seperti flashback, masa lalu itu diputar ulang lewat pantulan air gemericik kali.



“Jangan pergi nak,” bisik sang Ibu di malam dia akan pergi. Dia yang sudah bersiap dengan menenteng tas di bahunya, tak ada lagi alasan untuk mengurungkan niat.

“Aku laki-laki Bu, sudah sepantasnya aku pergi merantau. Aku tidak mau miskin terus,” jawabnya tanpa mau menatap wajah Ibu yang sudah basah.

“Jangan pergi, Nak. Ibu mohon.”

“Aku akan kembali, Bu. Ibu tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja.”

“Semua orang yang hendak pergi selalu mengatakan hal yang sama. Kembali dan baik baik-baik saja. Ayah mu juga bilang begitu dulu.”

“Aku berbeda dengan Ayah. Aku bukan Ayah. Ibu harus percaya padaku.”

Meski sulit dan berlinang air mata, sang Ibu tetap merelakan kepergiannya walau sebenarnya hatinya tak pernah ikhlas. Dia tetap pergi meski Ibu menatapnya sendu. Dia tetap pergi meski mata Ibu mengalirkan air yang membanjiri seluruh wajahnya.

Betapa baru disadarinya selama ini. Betapa dia lupa dengan janjinya. Dia bahkan lupa telah menyayat hati Ibu dengan menjadi seperti Ayahnya. Dan dia lupa betapa kini dia sudah menjelma seperti Ayahnya.


Kejadian kejadian janggal tiap pagi yang mengingatkannya pada Ibu. Yang membuat otaknya pusing tujuh keliling. Yang membuat dia sadar sebelum menyesal.

“Ibu. Bahkan aku tidak memberitahumu perihal Sari dan Ali,” dia kembali terisak. Mewek. Seperti anak kecil. "Ibu," dia kembali berbisik. Ngeri.

Perlahan dia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Dan dia terisak di sana.

"Sudah waktunya kamu pulang, Mas," Sari menyentuh pundaknya dari belakang. Dia tetap terisak tak mampu mengeluarkan suara.


Dengan memutar kembali kenangan yang tidak pernah dia tahu, tapi ada dan nyata. Ibu betapapun jauhnya. Berapapun lamanya. Namun sebuah penghidupan pasti dimulai dari rahim Ibu dan kembali dalam dekapan Ibu.

"Ibu."



Lagi-lagi saya membuat sebuah cerpen berdasarkan gambar yang dibikin Ana. Rupanya kunjungan dia ke pameran lukisan beberapa waktu silam memberinya ide. Jika biasanya sebuah gambar dibuat berdasarkan cerita, bagaimana jika metodenya dibalik. Membuat cerita berdasarkan gambar.

Cita-cita Ana sih, ingin jadi designer untuk cover buku. Dan impian saya, semoga nanti Ana bisa menjadi ilustrator saya. Kami memang partner yang serasi.





Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia tidak dapat mengingat apa yang terjadi, dia hanya melihat sekilas wajah suster yang menusuk lengannya dan mengambil darahnya. Dia hanya diam saja. Menggigit kuat bibirnya. Remuk. Seperti tertusuk duri. Sakit. Berkali-kali ditancapkan di hatinya. Dia pasrah. Separuh dalam dirinya merasa bersalah, yang lain berbisik, "Kau benar, dia pantas menerimanya".

Dia pantas menerimanya. Meski harus menjadi iblis. Dia memang pantas menerimanya. Meski belakangan Ajeng menyebutnya sadis. Memanggilnya psikopat berdarah dingin. Benarkah dia pantas menerimanya? Bukan. Dirinya bukan iblis. Dia dipaksa menjadi iblis. Iblis yang tega mengusir dia dan Ibunya dari rumah. Meski Ibunya dalam kondisi hamil besar. Dia hanya gadis kecil bersama seorang wanita hamil. Berkeliaran tengah malam mencari tempat berteduh.

"Baru pulang Nduk?" suara seraknya terdengar mengerikan, ditambah suasana malam yang tenang. Tanpa menghiraukan bahkan tak sudi menoleh ke arah datangnya suara. Dia melenggang masuk ke kamarnya. Rasa bersalah hinggap begitu dia sampai di kamarnya.

Gusti, dosakah? Gumamnya. Perih. Seperti ribuan sembilu menyayat dadanya. Sorot mata yang mulai pudar. Dia tidak sanggup menangkapnya lama-lama. Dia tidak boleh menatap matanya. Dia tidak boleh merasa kasihan. Dia tidak boleh kalah. Selalu seperti ini. Seperti dua kekuatan yang mencoba menguasai tubuhnya. Dua kekuatan yang sangat berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang. Dan dia seperti berdiri di bibir jurang. Dua kekuatan yang membuatnya lupa siapa dirinya. Pertanyaan itu yang selalu dia lontarkan setiap hari.

Bukan hanya dia. Ibu dan Ajeng pun merasakan hal sama. Tidak menemukan dia seperti dahulu kala.

"Apa apa denganmu? Kenapa kamu bisa seperti ini? Benarkah kamu putri Ibu?"

"Mbak Dewi jahat. Mbak ndak punya perasaan."

Kenapa? Kenapa dia jadi seperti ini? Dia bukan tidak tahu. Dia hanya menampilkan emosi datar dengan tatapan kosong yang hampa. Kenapa hidupnya menjadi hampa?


Sabtu sore dia yang baru pulang dari sekolah mendapati tamu yang tak asing di rumahnya. Duduk lemah di atas kursi roda. Tubuh yang hanya tinggal tulang terbungkus kulit kisut. Orang itu tersenyum kearahnya. Senyum dari wajah yang sama. Mata yang sama. Mata yang terakhir dia lihat bertahun-tahun lalu.

"Beliau sudah ndak punya siapa- siapa lagi. Cuma kita keluarganya," bujuk Ibu.

"Apapun alasannya Dewi tidak setuju dia tinggal di sini."

"Tapi beliau sedang sakit. Apa kamu tega?"

"Belajarlah dari dia! Dulu dia tega membuang kita."

"Lupakanlah semua jangan menanam dendam."

Mungkin Ibu telah melupakan kejadian itu dan berhasil memaafkan. Tapi tidak dengan dirinya. Dia masih mengingat sorot matanya. Tak ada belas kasih di sana. Dia lemparkan puterinya yang tengah hamil tua bersama cucu perempuannya yang masih berusia sepuluh tahun. Lelaki tua itu tak mau menerima puterinya yang lebih memilih menikah dengan pria lain daripada menuruti kehendak sang ayah yang menginginkan putrinya menikah dengan pria pilihannya. Yang tentu saja materi menjadi pertimbangannya. Ketika ayahnya meninggal, satu-satunya tempat yang menjadiharapan justru menghancurkan mereka. Membuang mereka seperti hama. Setelah bertahun-tahun berlalu. Setelah mereka berhasil bangkit dan memperbaiki hidup. Dia datang. Menuntut belas kasihan. Ibu dan Ajeng menerima kehadiran sang kakek dengan tangan gembira dan terbuka. Kecuali dia yang masih tidak mampu menanggalkan bayang kelam malam itu. Maka dia putuskan untuk sebisa mungkin tidak berinteraksi dengan kakek. Menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan di kampusnya. Pergi pagi dan pulang ketika larut malam.

Dia bangun benteng di tebing hatinya. Menutup rapat-rapat pintu maaf. Bersikap sedingin es dan keras bak karang di lautan. Dia akan tetap diam meski kakek memanggilnya. Dia akan berlalu ketika kakek mengajaknya bicara. Bahkan dia tidak peduli sekalipun kakek tersungkur mencium lantai. Terjatuh dari kursi rodanya. Yang membuat dia mendapat julukan 'psikopat sadis' dari Ajeng. Darimana gadis berusia sepuluh tahun mendapat istilah semacam itu?
Dia bisa mengerti, Ajeng tidak berada pada posisinya saat malam itu. Masih berupa janin yang berada dalam perut. Ibu. Dia tak akan mengerti apa yang dirasakannya. Dia juga tidak akan pernah tahu alasannya tetap diam.

***



"Ngelamun terus," suara itu membuatnya memalingkan kepala ke sebelah kirinya, tepat di depan wajah Dinda, "Ngelamunin apa sih?" tambahnya.

"Siapa yang ngelamun?"

Dinda adalah teman baiknya dari semasa SMA. Hanya Dinda sosok penghibur yang membikin perutnya sakit dengan canda segarnya. Hanya Dinda yang mampu membuatnya kembali tertawa. Tetapi seperti halnya Ibu dan Ajeng. Winda pun merasakan perubahan luar biasa terhadap dirinya. Lebih sering diam. Murung. Seperti tidak lagi bernyawa. Tubuhnya bagai mayat hidup yang berjalan kesana-kemari. Tidak tahu kapan harus berhenti.

Dinda selalu mengingatkannya, "Dendam itu seperti duri. Tertusuk sakit. Dicabut meninggalkan luka. Jangan mendendam Dewi. Maafkan apa yang sudah terjadi".

Seandainya kata maaf semudah seperti mereka mengucapkannya. Dia tidak sanggup menatap mata kakek. Mengingat sakit. Membuatnya semakin sulit memaafkan. Yang dia butuhkan hanya jauh. Dia mau kakek pergi. Mati sajalah. Baru dia bisa memaafkannya.

Astagfirulah... Desahnya dalah hati.

Dia menghentikan langkahnya. Berdiri mematung di anak tangga. Dia mengedarkan pandangan ke arah pelataran kampus yang mulai ramai. Sama seperti dirinya mereka pasti hendak menuju papan pengumuman mencari tahu kalau-kalau ada nilai yang sudah keluar.

Belum lagi dia memijakkan kaki, gerakan tubuhnya terhenti ketika suara ponsel berdering dari dalam tasnya.

"Assalamualaikum."

"Waallaikumsallam. Dewi cepat ke rumah sakit Sekarang!"

"Ada apa Bu?"

"Kakekmu."

Tanpa berpikir dua kali dia bergegas menuju rumah sakit. Ibu dan Ajeng langsung menyambutnya begitu dia tiba.

"Kakekmu jatuh dari kursi roda. Kepalanya terbentur lantai," ujar Ibu dengan panik dan suara bergetar. Ngeri. "Kali ini Ibu mohon. Bantu kakekmu."

Ibu menangis. Memohon. Memeluknya berulang-kali. Seolah dia tak punya hati. Selama ini dia memang menampilkan kebencian. Memperlihatkan sosok iblis. Manusia tak punya hati yang tak mampu memaafkan kakeknya sendiri. Jiwanya hampa. Kosong. Jauh masuk ke dalam hingga tak terlihat lagi. Dan dia jadi seperti zombie.

Berkali-kali dia bertanya pada dirinya sendiri. Haruskah dia memaafkan?

‘Tidak. Dia tidak pantas dimaafkan.’

‘Tetapi. walau bagaimanapun beliau adalah kakekmu.’

‘Tidak. Jangan jadi lemah. Dia juga harus rasakan sakitmu.’

Bisikan-bisikan itu terus memenuhi kepalanya. Rasanya mau pecah. Berusaha menguasainya. Mengambil kendali. Dia kira akan bahagia melihat orang yang paling dia benci terluka. Tapi rasanya seperti ada ribuan sembilu menusuk hatinya. Sakit. Kenapa memaafkan jadi sesakit ini.

***


Jangan dipaksakan. Mbak istirahat saja dulu," seorang perawat menahan tubuhnya dan membaringkannya lagi di tempat tidur.

Beberapa saat kemudian Ibu masuk dan menghampirinya yang masih terbaring lemah.

“Terimakasih," Ibu mengusap lengan kirinya yang terbalut plester.

"Bagaimana keadaannya?"

"Alhamdulillah kakekmu sudah siuman. Beliau ingin ketemu kamu."

Siapkah dia melihat wajahnya? Bisakah dia hapus luka dan memaafkannya? Tidak akan terjadi selama dia masih mendapati mata itu.

"Nduk?" suara Ibu menuntut jawaban.

"Nanti saja. Aku masih pusing. Aku mau istirahat dulu," dia memalingkan pandangannya. Tidak sanggup menatap wajah Ibu. Dia tidak peduli meski dianggap tak punya hati, psikopat sadis atau apapun itu. Sorot matanya yang kosong seperti hanya ada dendam di dalamnya. Dia tidak peduli meski disalah pahami. Pergulatan dalam dirinya cukup melelahkan. Dia hanya butuh waktu sebentar lagi. Tinggal sedikit lagi untuk mendorong salah satu dari mereka ke jurang.





Karikatur oleh Rida




"Dani, dia sudah punya pacar," Rani tiba-tiba saja muncul dari belakang, dengan wajah muram.

Aku memperhatikan wajahnya sekilas dan kembali fokus menunggu angkot yang biasanya lewat pada jam pulang kantor seperti ini. Tapi entah kenapa tiba-tiba sepi. Padahal sudah pukul 5 lewat lima belas menit. Artinya aku sudah berdiri hampir seperempat jam di sini.

"Siapa?" celetukku.

Rani diam sejenak sambil menutupi matanya. Mungkin malu kalau orang tahu dia sedang menangis.

"Jafar."

Oh, laki-laki berjenggot tipis yang suka pakai topi dan selalu memutar lagu gambus di dalam mobilnya. Namanya saja mirip tokoh antagonis di film Aladin.

"Jafar sudah punya pacar," tiba-tiba saja tangis Rani pecah. Beberapa orang yang lewat di sekitar kami refleks menatapku penuh curiga. Jujur aku sudah tidak terlalu peduli dengan ulah Rani yang hampir selalu membuatku malu. Seperti dua hari lalu saat makan siang bersama, dia menumpahkan minuman tepat di celana bagian depan. Sehingga aku nampak seperti habis ngompol.

"Mau makan?" hanya itu mungkin yang bisa ku lakukan untuk membawanya pergi dari keramaian, perempatan jalan tempat nunggu angkot. Akan aneh jika aku biarkan dia nangis dan curhat di sini.

"Lagi diet. Ngopi aja yuk."

"Boleh."

"Kamu yang bayar."

"Iya."

Kami tiba di sebuah kedai kopi dan langsung duduk di kursi panjang dekat meja kasir. Ornamen manis menghiasi seluruh sudut kedai. Paduan warna jingga polkadot dan beberapa lukisan reaslis menghiasi dinding bersama sebuah papan tulis hitam yang bertuliskan menu spesial hari ini.

Aku memesan secangkir Latte sementara Rani memesan kopi Bali Kintamani. Itupun harus berantem dulu dengan baristanya ketika Rani meminta tambahan gula sedangkan barista yang ku tahu bernama Chico, dari tanda pengenal di dadanya bersikeras tidak mau memberi tambahan gula karena bisa merusak cita rasa kopi katanya. Akhirnya Rani menyerah.

"Dia sudah punya pacar tapi kenapa dia deketin aku, seolah-olah ngasih harapan," Rani mulai. Bercerita.

Aku jadi teringat sebuah meme komik yang tidak sengaja aku lihat di facebook. Sebuah gambar berlatar belakang coklat dan bertuliskan, 'Mendung belum tentu akan hujan. PDKT belum tentu dipacarin.'

"Kenapa aku nggak pernah ketemu sama laki-laki baik. Kenapa harus ketemu sama..." Rani menghentikan kalimatnya.

Aku tahu. Lantaran hampir tiap bulan kami datang ke kedai ini dengan cerita yang sama namun kronologinya berbeda. Bulan lalu dia menangis gara-gara pria bernama Indra, seorang sales asuransi yang kemana-mana minta dibayarin. Bahkan untuk sekedar ongkos naik ojek. Atau Gofar yang ngakunya eksekutif muda ternyata suami orang dan sudah punya anak lima.

"Kamu yang harusnya introspeksi diri!" kataku sambil nyeruput latte yang meninggalkan busa krim di bibir atas kemudian aku jilat untuk menghilangkannya.

"Aku? Apa yang salah sama aku?"

"Kamu terlalu lugu, terlalu percaya sama laki-laki yang baru kamu kenal."

"Memangnya kenapa sama mereka?"

"Entahlah, tapi yang jelas hampir tiap bulan kamu nangis di sini gara-gara siapa?"

"Namanya juga usaha," wajah Rani jadi berubah ketika meminum kopinya. Aku yakin karena rasa kopinya yang asam dan ada sedikit pahit yang bikin pening untuk orang yang tidak biasa minum kopi hitam.

"Usaha kamu terlalu keras, hingga percaya sama setiap laki-laki yang deketin kamu."

"Aku kan sedang berusaha biar cepat dapat jodoh, nggak seperti kamu. Nggak laku."

"Aku ini high quality jomblo. Bukannya nggak laku. Aku sedang menunggu seseorang yang tepat. Nggak seperti kamu, sembarangan mau dideketin orang."

"Memangnya seseorang yang tepat yang seperti apa?"

Rani menatapku dengan satu tangan memangku dagu. Matanya mengerjap menunggu jawaban. Aku menelan ludah. Sisa tegukan latte yang tadinya ku seruput nikmat kini menusuk tekak.

"Entahlah," jawabku sambil membuang muka ke arah jendela.

***



Sudah lewat pukul 10 malam ketika aku masuk kamar kost setelah menemani Rani jalan-jalan berbelanja. Ritual wajib bagi wanita yang sedang patah hati seperti Rani.

Setelah meletakkan tas kerja, aku duduk sejenak di tepi tempat tidur. Merenggangkan kaki. Pegal. Sejak kecil Rani memang gemar sekali menggangguku dalam segala hal. Aku adalah orang pertama yang dihubunginya ketika merasa sedih. Selain harus siap menjadi pendengarnya aku juga harus siap menjadi penghibur untuk mengobati kesedihannya. Meskipun harus menjadi badut, aku rela asal dapat melihat Rani tertawa.

Aku membuka laci meja yang berada di samping tempat tidur, mengeluarkan sebuah buku berwarna coklat dan membukanya. Selembar foto seorang gadis kecil tersenyum menunjukkan gigi tanggalnya.

"Kamulah orang yang tepat itu, Ran."



Sebuah cerita yang dengan tulus saya persembahkan kepada sahabat saya Anjar. Entah mengapa hari itu sangat berarti dan saya lupa memiliki teman sebaik dia. Untuk sebuah ketulusan yang tak bisa saya balas dengan apa-apa selain cerita yang bisa dibilang perlu banyak belajar, tapi semoga dapat menjadi pengingat hingga kita tua ya.




Bagaimana ya rasanya. Hmm… ehemn... henmnm… Tidak ada yang istimewa. Biasa saja. Tidak ada bedanya rasanya tetap sama seperti hari-hari lain. Diam. Sunyi. Berjalan menunduk hanya agar wajahku tak terlihat atau sebenarnya tak ada gunanya, karena memang aku tak pernah dilihat sekalipun ada. Mengharap dapat kejutan. Lupakan! Bahkan tidak ada yang mengingatnya. Termasuk kedua orang tua. Ibu yang lupa kapan pertama kali dia ngeden hebat kemudian keluarlah aku. Beliau memang tidak suka mengingat tanggal, bersusah payah mengingat kapan, dimana dan bagaimana. Yang penting tahu-tahu sudah muncul saja.

Kelas hari ini dimulai pagi, pukul 6 kurang lima belas menit. Satu jam bimbingan belajar bersama guru tiga mata pelajaran yang masuk dalam daftar UN. Hanya tiga kali dalam satu minggu, secara bergantian. Dan hari ini jadwalnya Bu Ani manusia dengan stereo ganda. Percayalah! Ketika dia menerangkan atau berbicara di depan kelas suaranya bisa terdengar sampai kamar mandi yang berada di bawah kelas 3AKA2, kelasku.

Pukul 06.15 aku bersama empat temanku, Riska, Putri, Retno dan Rahayu berlari menyusuri koridor sekolah. Ketika sampai di depan kelas 2PJ1 suara Bu Ani datang lebih dulu, mendahului gerak kakiku.

“Buset deh, Bu Ani,” Celetuk Retno yang berlari kecil di belakangku, disusul dengan tawa dari Putri dan Rahayu. Entah kenapa kami selalu kagum dengan kedasyatan suara Bu Ani yang jangkauannya mencapai 7 oktaf.

Kami bergegas menaiki satu-persatu ana tangga hingga tiba di kelas yang berada tepat di depan tangga. Retno memisahkan diri karena dia berbeda kelas dengan kami. Sedangkan aku, Riska, Putri dan Rahayu dengan santai masuk ke dalam kelas setelah Putri mengucapkan salam. “Assalamualaikum,” mewakili kami. Bu Ani yang sudah hafal betul karena setiap kali bimbingan selalu datang terlambat. Bukan hal baru dan sudah malas menegur.

Putri duduk di bangkunya yang berada di dekat pintu, Riska dan Rahayu duduk bersama di bangkunya yang berada di belakang tempat dudukku. Sedangkan aku. Lho kok aneh. Kosong. Biasanya dia sudah ada di sana sebelum aku datang. Memandang aneh tempat dudukku yang berada tepat di depan meja guru. Duduk dengan gusar karena tak menemukan teman satu bangkuku.

Anjar. Gadis ekstrovert super cerewet yang baru beberapa bulan memutuskan hijrah dan duduk di bangkuku. Entah ada angin apa? Awalnya aku merasa terganggu karena aku benci ekstrovert apalagi yang cerewet karena aku sangat menikmati kesendirian duduk melamun sendiri ketika guru sedang menerangkan walaupun harus menerima teguran terutama oleh Bu Tisha sang guru akuntansi yang paling dihormati, disegani bahkan kalau perlu disembah oleh seisi sekolah.

Ah, Anjar. Sekarang aku malah merasa kehilangan.

Nah, itu dia. Duduk di bangku paling belakang bersama Mita. Sedang apa dia di sana? Kenapa tidak langsung duduk di sini saja. Woy… kenapa kamu duduk di sana dan meninggalkanku sendiri di sini?

“Faranggi kenapa telat lagi?” suara Bu Ani membuatku menghentikan segala pergulatan di dalam otak dan seketika menatap lekat wajah Bu Ani yang kini duduk tepat di depanku. Ada tahi lalat besar di atas bibirnya.

“Oh, nganu Bu,” jawabku sedikit gelgapan.

“Rumahmu jauh ya dari sekolah? Kok hampir tiap hari terlambat tho, Faranggi,” ujar Bu Ani dengan intonasi memanjang mirip cengkok dangdut di akhir kalimat. Hanya guru-guru dan. teman yang tidak terlalu akrab saja yang masih repot-repot memanggil Faranggi, sisanya dengan iklash memanggil Anggi. Karena Faranggi terlalu panjang. Kadang ada yang hanya memanggil Gigi, Nggi, atau Enji (Putri yang sok kebule-bulean)

“Iya Bu,” jawabku singkat, padat dan tidak jelas. Bagi Bu Ani mungkin itu cuma alasan saja. Tapi... Bu Ani sebenarnya ingin sekali saya katakan bahwa rumah saya sungguh jauh dari sekolah. Butuh tiga puluh menit dengan naik angkot atau lima belas menit dengan naik motor. Tapi aku tak bisa naik motor dan tak ada yang bisa mengantarku dengan motor. Satu-satunya transportasi andalan ya angkot eksklusif berwarna hijau dengan stiker bertuliskan ’barokah’ di kaca belakangnya. Angkot milik tentangga Riska, Putri, Retno dan Rahayu (satu kampung). Dengan setia mengangkut kami berlima. Hanya berlima karena angkot ini khusus dan siap mengantar kami pagi-pagi karena angkot lain biasanya baru mengudara pukul 06.30 saja.

Ingin sekali aku katakan padamu Bu, tapi mulut ini serasa terbungkam. Kenapa sih harus bertanya padaku? Yakin Putri pasti dengan senang hati menjelaskannya. Karena aku duduk di depan meja Anda, karena Putri duduk jauh di ujung sana, tak usah repot menghampiri Putri. Selalu aku yang jadi sasarannya.

***



Hampir satu hari penuh kelas kosong tak termasuki guru satu pun. Pak Habibi jadwal olahraga pagi kosong. PKS, Bu Leli hanya masuk sebentar kemudian pergi lagi. Terakhir empat jam pelajaran non stop milik Bu Tisha, namun hari ini dia absen karena mengikuti study tour di luar kota. Empat jam pelajaran yang biasanya dua jam pertama di isi dengan mencatat dan dua jam berikutnya untuk menerangkan.

Berhubung Bu Tisha tidak ada praktis empat jam pelajaran di isi dengan mencatat. Mencatat. Aktiva, piutang, modal, neraca, jurnal umum. Hadeh.

Anjar yang sudah kembali ke habitatnya begitu Bu. Ani keluar kelas, bukannya mencatat. Ampun ini anak. Suka sekali mondar-mandir kesana-kemari. Lihat saja! Nanti kau akan dapat bonus lagi dari Bu Tisha karena catatanmu belum lengkap ketika harus di kumpulkan, tak usah repot-repot pinjam punya ku ya! Karena sudah pasti banyak yang mengantri untuk meminjamnya.

“Gi, anterin ke belakang yuk!” rajuk Anjar dengan manja.

“Minta yang lain saja sana! Aku sibuk”

“Bentar Saja, Gi,” rajuknya lagi.

Lima belas menit goresan tanganku di selingi suara merajuk Anjar minta di antar ke kamar mandi. Dan aku tak mau kalah. Tetap dengan pendirian. ”Moh”. Aku tidak mau ketinggalan moment mencatat yang syahdu. Dengan irama gesekan merdu pena di atas kertas sang belahan jiwanya. Aku juga dapat bonus dengan melamun gratis tanpa perlu di hardik kalau ketahuan.

“Ayolah Gi… Ayolah Gi… Ayolah Gi…”

Hadeh. Runtuh juga benteng pertahananku, rek.

“Ayolah!”

Menuruni anak tangga dengan malas ketika Anjar menggandeng tanganku tanda untuk bergegas. Barangkali dia sudah kebelet. Menuju kamar mandi perempuan yang berada persis di bawah kelas. Sebuah tempat kecil di pojok sekolah dengan tiga ruangan yang tak kalah kecilnya dan cermin besar yang menggantung di tembok kamar mandi tempat para perempuan cantik memperhatikan diri. Jujur cuma aku yang selalu melewatkan moment begitu keluar dari balik salah satu pintu tak lupa, karena wajib, memperhatikan diri dulu di depan cermin. Kalau perlu sambil senyum-senyum mirip orang gila sebelum benar-benar keluar dari kamar mandi. Aku tidak pernah melakukannya karena aku tidak cantik.

“Ikut masuk yuk!” ujar Anjar berdiri sembari membuka salah satu pintu.

“Ngapain?” aku mendelik menatap wajah cantik Anjar yang sumpah hari ini nyebelin banget.

“Temani aku bentar,” Anjar kembali merajuk.

Ah. Hari ini sungguh aneh. Penuh misteri. Misteri. Misteri gunung merapi. Misteri nini pelet.

Ku putuskan untuk masuk saja ke salah satu kamar mandi. Menghindari Anjar karena rayuan mautnya tidak bisa ku tolak. Manusia dengan simpati dan empati tinggi. Tak peduli apa jadinya diri sendiri yang penting teman happy.


Cuma lima menit di dalam kamar mandi yang terasa lamaaa sekali. Mencuci tangan sampai tiga kali. Merapikan baju yang sudah rapi. Setelah di rasa cukup kemudian keluar menengok Anjar apakah dia sudah selesai atau malah masih ngendon di kamar mandi.

Begitu ku buka pintu.

JEBYURRRR.

Tepat di muka ku. Hebat sekali. Satu ember air dituangkan di atas kepala. Basah. Belum puas masih dikasih bonus satu ember lagi yang kali ini di guyurkan oleh Putri. Benar-benar basah sudah.

Berteriak. Mengumpat. Sedangkan Anjar si penyiram bunga pertama telah kabur naik ke atas menuju kelas.

Kucing got. Aku. Cuma bisa berjalan sembari tak henti memaki mereka. Dan mereka cuma mentertawaiku dari atas jendela kelas. Satu kelas kompak. Di kelilingi pandangan aneh anak-anak kelas dua yang sedang duduk di depan kelasnya ketika aku lewat. Ada yang menatapku, ada yang mentertawaiku, ada juga yang melirikku gila.

Aku masuk ke dalam kelas dengan. keadaan basah seluruhnya. Mirip sungguh kucing got. Yang pertama. ingin ku lakukan adalah menjambak rambut Anjar. dan menjatuhkannya dari jendela kelas. Namun ternyata.

“Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun Anggi. Semoga panjang umur.”

Dengan berjalan perlahan sembari memopang kue besar dengan delapan belas lilin kecil terbakar di atasnya, di iringini suara nyanyian serempak (walau tidak satu kelas ikut semua). Aku terharu. Sungguh terharu. Seumur hidup orang tuaku bahkan lupa kapan anaknya ini diturunkan ke bumi lantas dilepas ke dalam dekapan mereka. Seumur hidup aku tidak pernah merayakan hari ulang tahun yang sekarang sudah mendarah daging bahwa hari ulang tahun tak begitu istimewa dan tak butuh di rayakan.

“Make a wish dulu dong!” ujar Anjar sembari menyodorkan kue tepat di depan muka.

Ku pejamkan mata hingga kemudian ku tiup perlahan lilinnya dengan bantuan Anjar dan beberapa teman karena lilinnya tak mau padam. Detik berikutnya kue itu telah mendarat di wajahku. Aku kembali teriak. Kembali marah. Dan ku kejar satu persatu dari mereka, ku peluk Anjar agar merasakan basahku, ku bekap wajah Putri agar penuh krim juga sepertiku. Ku gerayangi semua orang yang berada di sekelilingku. Saling melempar kue. Gaduh. Kelas jadi riuh.

Untuk pertama kalinya aku menggila. Untuk pertama kalinya ulang tahunku di rayakan, untuk pertama kalinya ada yang mau menyanyi lagu ‘selamat ulang tahun untukku’, untuk pertama kalinya ada yang ingat hari ulang tahunku. Adalah Anjar yang dengan iklas membawa kue sebesar itu dari rumahnya yang jaraknya lebih jauh lagi dari rumahku, dengan berusaha menjaga keseimbangan agar kue itu tak rusak tergencet penumpang bus lain atau lebih parah lagi bila terjatuh. (tak bisa ku bayangkan beratnya perjuangan Anjar) Itu sebabnya begitu datang dia tak lantas duduk di sampingku tapi duduk di belakang, di bangku Mita demi menyembunyikan kue nya.

Dan doa yang aku panjatkan.

“Semoga kita bisa selalu bersama, teman. Aku mencintaimu teman.”



Banyuwangi, 1 April 2013