Showing posts with label Serangkaian. Show all posts
Showing posts with label Serangkaian. Show all posts

The Second Coming

<< Part 6 - Part 7



Tak terhitung berapa musim sudah aku menunggu angin ku kembali sembari mengenangnya di tengah kering dan tandusnya ujung hati. Masih beriman padanya meski tahu angin tidak akan pernah kembali ke tempat pertama kali dia berembus. Ya, sudah kodratnya begitu.

Tapi entah kenapa aku seolah terhenti dan menunggu di tengah persimpangan. Menunggu entah apa yang aku tunggu hingga kini meski ku rasakan samar – samar kehadirannya di ruang dalam tempat dia biasa bersemanyam.

“Biar waktu yang sembuhkan luka,” ya memang benar itu adanya. Oleh sebab itu meski masih ku rasakan kehadirannya, meski mungkin sulit untuk tergantikan dan butuh ribuan musim untuk menghapus jejaknya tertutup butiran debu yang dibawa angin di musim kering.


Aku sudah siap.

Aku sudah berani menantang hari dan menatap matahari.

Aku sudah siap menanggalkannya rasa dan iman yang sempat tertanam sementara.

Hingga dengan yakin melabelinya sebagai kenangan yang akan aku tinggalkan.


21 perjalanan baru menunggu.




Banyuwangi, 18 November 2019

Quiet

<< Part 5 - Part 6 - Part 7 >>

"Stop trying to impress people You don't even like"


“Selamat siang, mau nonton apa?”

Sapa seorang wanita penjaga loket bioskop dengan senyum ramah.

“Joker” jawabnya.

“Mau di kursi nomor berapa? Mau di depan, di tengah atau di belakang?” wanita itu menunjukkan layar monitor yang ada di bawah agar dia bisa memilih posisi dan nomor kursi.

Masih banyak yang kosong, padahal baru beberapa hari film ini diputar di bioskop, mungkin karena ini hari kerja. Sebagian besar orang masih berkutat di tempat kerjanya, sementara dirinya yang selalu punya waktu luang siang hari, tak pernah absen mengunjungi bioskop setiap hari senin atau selasa setiap minggunya.

Apalagi profesinya yang hanya sebagai guru TK membuatnya bisa langsung pergi ke bioskop begitu selesai mengajar. Nonton film memang menjadi hobinya sejak kecil, dia nonton segala genre film, mulai dari film action, romance, komedi hingga horror sendiri. Ya, dia selalu nonton sendiri.

“Yang ini aja mbak,” dia menunjuk layar monitor tepat di posisi kursi yang diinginkannya.

“G12 ya? Silahkan tiketnya! Kuponnya mau ditukar apa? Mau Teh Kotak atau Soda?”

“Soda saja!”

Harga tiket yang sebenarnya cuma 25 ribu jadi 30 ribu karena yang 5 ribu jadi kupon buat beli minuman. Lumayan.


Kondisi bioskop yang lengang membuatnya bisa fokus menyaksikan setiap adegan di dalam film, kalau weekend pasti tidak akan bisa sepeerti ini. Biasanya dipenuhi oleh muda mudi berisik yang baru kemarin kenal film, belum lagi jika ada keluarga yang piknik sambil bawa anak kecil yang berkali – kali pesan kentang goreng atau pop corn setiap kali nonton.

Itu sebabnya dia lebih suka nonton di hari senin atau selasa setiap minggunya. Selalu di hari itu, tidak pernah di hari lain. Dan selalu sendiri. Ya, sendiri.

***
Setelah sekitar 122 menit nonton, akhirnya dia keluar dari studio 2 dan menuju ke lift untuk turun ke lantai dua. Di sana ada foodcourt jadi tidak perlu mencari tempat lain untuk makan siang. Dia langsung tertuju pada salah satu stand langganan dan memesan nasi campur bali ditambah sate lilit dan es jeruk.

Dia sengaja memilih tempat yang lumayan sepi karena semakin siang tempat ini semakin ramai dengan anak SMA yang baru pulang sekolah, bukannya langsung pulang malah main ke mall dulu buat beli boba.

Dia makan sambil mengamati sekelilingnya, sepertinya hanya dia saja yang makan sendirian di tempat seramai ini. Ada yang datang bersama teman, keluarga bahkan pasangan. Tapi dia hanya mengamati sekilas untuk kemudian kembali fokus pada makan siangnya dan segera menghabiskannya agar bisa cepat sampai rumah.

Begitu selesai, dia langsung turun ke lantai satu dan membeli Roti ‘O dan kopi untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.

Di tempat parkir sudah ada motor matic putih 150cc berstiker semut merah dan angka 93 yang selalu setia mengantarnya kemana saja, mulai dari kerja, jalan jalan hingga mengantar barang, dan selalu sendiri. Ya sendiri cuma sama si putih ini.


Sesampainya di rumah dia hanya meletakkan roti dan kopi yang dibelinya tadi di meja lalu menyalakan laptopnya begitu selesai meletakkan tas dan jaket di tempat tidur. Hal pertama yang dilakukan dengan laptopnya adalah memeriksa email, ternyata hanya beberapa email dari kliennya.

Tak lupa dia juga memeriksa ponselnya, ada banyak pesan whatsapp yang belum terbaca. Di antaranya ada dari klien yang protes karena hasil pengerjaan website kurang sesuai dengan keinginannya, beberapa pesan dari nomor baru yang menanyakan lowongan menulis lagi.
Dan beberapa pesan yang sudah lama diabaikannya.

“Oalah… iya nggak apa – apa, kirain kamu udah nggak mau balas wa ku.”

Muncul satu pesan lagi.

“Semoga usahanya lancar ya, harus tetap semangat!”

- Aryo.




Banyuwangi, 16 Oktober 2019

Berhenti Di Persimpangan

<< Part 4 - Part 5 - Part 6 >>



Ketika berada di persimpangan biasanya aku bertanya pada diriku sendiri. Bukan bertanya jalan mana yang hendak aku pilih, namun bertanya apa yang akan terjadi jika aku melewati jalan yang ini dan pengalaman apa yang akan menimpaku jika aku memilih jalan yang itu.

Entahlah, hidup memang penuh dengan misteri. Yang pasti kita tidak akan mengetahui apa yang terjadi sebelum kita melewatinya. Kita juga tidak akan pernah tahu apakah kita bisa menghadapinya sebelum kita bergelut langsung ke dalamnya.

Namun manusia cenderung berhenti dan tidak melakukan apa-apa karena takut dengan sesuatu yang tidak pernah ada.

Ya, seperti yang aku lakukan saat ini. Berdiri ribuan hari di antara dua pilihan. Dua jalan. Mana kah yang harus aku pilih? Mana kah yang harus aku tempuh?

Karena tak ada jalan yang bisa membawaku mengarah padamu.



Banyuwangi, 26 Oktober 2018

Angin Apa Yang Membawamu Kembali?

<< Part 3 Part 4 - Part 5 >>


Semilir angin musim kering ini mengingatkanku pada satu janji. Kamu berujar seolah-olah pasti, seolah aku dan kamu cinta sejati. Tapi ketika aku menyadari angin itu telah tertelan ombak dan buih, aku bisa apa selain duduk terdiam di pinggir samudera. Memang aku tidak pernah kamu bawa masuk, hanya duduk di ambang pintumu. Tidak masuk tidak juga keluar. Hingga saat ini, aku menunggu di ambang pintu.

Di antara karang dan debur yang mendayu-dayu seolah lagu sendu yang sedang bergurau, sementara aku patah sepatah-patahnya.

Lalu untuk apa kamu menyapa? Sekadar menanyakan kabar dan laki-laki baruku? Dia bukan apa-apa sebab kamu masih menggangguku. Mengacaukan pikiranku dengan sekali datang lalu pergi. Khas seorang angin.

Angin apa yang membawamu kembali?
Setelah sekian lama berembus pergi.
Angin apa yang membuatmu pulang?
Meningat mungkin aku bukanlah rumah bagimu yang tak akan pernah mengucapkan selamat datang.
Sama seperti ketika kamu pergi.

Tidak ada ucapan perpisahan atau selamat tinggal yang berarti cukup sampai di sini aku tidak mau kamu kembali.

Tapi kamu datang, menyapaku meski hanya singkat. Tahukah itu cukup membuatku berharap? Tahukah, itu cukup berarti sehingga aku berani bermimpi kamu akan membawaku pergi, berembus bersama, terbang berdua ke tempat yang dulu pernah kamu sebut rumah.

Dengan caramu memanggilku walau hanya berupa nama, ya kita telah lalui beberapa masa di mana aku menjadi namaku di setiap ujarmu yang menjadikan itu indah. Lalu sesekali kamu menyapa.

“Gi.”

Itu membuatku berani bermimpi bahwa kalimat selanjutnya adalah, “Maukah kamu menikah denganku.”



Mencari Angin

<< Part 2 - Part 3 Part 4 >>

Aku berdiri di bawah butiran-butiran bening yang menyerangku. Keroyokan. Sepertinya mereka tak mampu menghadapiku satu persatu. Pengecut. Pecundang kalian. Kalau berani lawan aku dengan tombak petir milik Zeus yang kau pinjam.

Aku masih berdiri menantang hujan.

Basah semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Basah yang mengingatkanku pada rindu. Karena seriap menatap hujan yang terlintas di benakku hanya senyum nakalmu.

Kenapa kamu pergi?

Aku berlari menyusuri hujan berharap menemukan angin yang telah pergi. Jangan pergi kemarau. Tetaplah kering seperti hatiku yang gersang semenjak angin itu berembus untuk yang terakhir kali dengan membisikkan kata selamat tinggal.

Di mana lagi aku bisa mendapatkan orang sepertimu, mencari senyum yang sama nakalnya dan merindu seperti punguk yang selalu menatap bulan dari kejauhan.

Dengan apalagi aku bisa menggantikanmu.

Kalimat itulah yang selalu terkenang semenjak anginku hilang. Seolah hariku hanya dipenuhi hujan dan air mata. Di dalam ada hati yang senantiasa merindunya. Menunggunya jika saja dia menyapa dan kembali dengan kata penyesalan karena telah pergi.

Hingga ketika aku sadar aku hanya berdiri di pinggir hujan. Berada di antara kenangan dan masa depan. Masih berusaha melepaskannya satu persatu, dengan iman aku percaya setiap butiran-butiran hujan mampu membawa kenangan tentang anginku pergi. Ku lepaskan satu persatu hingga genap dan semuanya lenyap di bawah gemericik hujan menuju sungai dan bermuara di pantai. Tempat paling akhir untuk sebuah kenangan dan luka masa lalu.



Banyuwangi, 30 Maret 2017

Friday

<< Part 1 - Part 2 - Part 3 >>



“Di mimpiku kamu terlihat bahagia, aku senang. Dalam mimpiku itu kamu terlihat sibuk mewujudkan karya tanganmu jadi lebih nyata.”

Entah kenapa hari ini aku terbangun dengan sebuah pesan yang ku baca ulang. Setiap kata yang terangkai aku resapi perlahan hingga sadar, aku baru bangun diri mimpi. Ya mimpi, di hari ini meski bukan hari jumat tapi aku teringat tentang janji dan mimpi. Aku tahu meski aku tidak pernah berada di dalam mimpimu di tidur selepas sepertiga malam.

Ah dengan apakah aku harus menyebutmu? Kenangan? Jumat? 911? Atau angin?

Aku benci angin.

Seumur hidup aku berurusan dengan angin. Berembus sekejap lalu hilang selamanya. Yang ditinggalkan hanyalah gersang.

Aku berdoa, semoga kamu bukanlah angin. Tapi angin tetaplah angin. Tidak pernah kembali ke tempat pertama dia berembus.

Entah kamu ingat atau tidak.

Kita telah melewati hari di mana kita ditakdirkan bertemu meski tak pernah terselesaikan. Meski sudah dua periode terlewati tapi rasa ini belum juga menemukan kata sudah.

Semoga kamu mengerti.

Dual

"There's always two side to every story"



Part 1 - Part 2 >> 


Side 1


Gerimis yang tiba-tiba turun membuatku mempercepat langkah, untung saja sekolah sudah berada di depan mata. Meski aku harus sedikit berlari dan basah begitu sampai di depan gerbang sekolah, tapi pandanganku justru terfokus padanya.

Makin sibuk saja dia sekarang, sepagi ini bahkan sudah berhadapan dengan rapat bersama anggota pengurus mading di depan kelasnya. Wajahnya tampak ceria dan begitu cerewet jika sudah membahas materi untuk madingnya yang terbit setiap hari Senin. Hingga dia tidak menyadari kehadiranku yang melintas di depannya.

"Selamat pagi Arif," sapa salah satu anggota pengurus mading yang duduk di sebelahnya.

Dia yang tadi hanya fokus pada buku yang berada di pangkuannya, refleks mendongakkan kepala begitu namaku disebut salah satu temannya.

"Pagi juga," balasku, tapi pandanganku masih tertuju padanya bukan pada seseorang yang menyapaku. Aku berharap dia juga mengatakan sesuatu.

"Hai, Gi... Apa kabar?" akhirnya aku menyerah dengan menyapanya terlebih dahulu.

"Alhamdulillah sehat, Yip juga sehat kan?"

Deg. Jantungku berdegup mendengar dia masih mau menyebut namaku seperti saat kami masih bersama dulu.

"Iya, aku juga sehat," jawabku sedikit gugup dengan mempersembahkan senyum semanis mungkin.

Tapi sepertinya percuma karena kepalanya kembali menunduk dan fokus pada bukunya.

Sedikit menyakitkan menjadi seseorang yang diabaikan. Tapi mungkin begitulah perasaannya dulu ketika aku sering mengacuhkannya saat kami masih bersama, sementara dia begitu keras menjaga hubungan ini dan membiarkan dirinya sendiri terluka.

Aku lupa setiap manusia memiliki batas kesabarannya sendiri, dan mungkin sekarang dia telah berada di ambang batasnya hingga nyaris mustahil untuk kembali. Meskipun aku tahu percuma menyesalinya. Tapi melihatnya kini jauh lebih bahagia, mewujudkan karya-karya dari tangannya dan mengejar mimpi.

Dia berhasil melangkah jauh meninggalkanku.




Side 2


Hampir pukul 5 sore ketika motor Riska berhenti tepat di jalan kecil menuju rumah, aku turun sambil menyerahkan helmnya mengucapkan 'terima kasih' karena bersedia memberiku tumpangan untuk pulang.

"Sama-sama Gi, sampai ketemu besok ya, di sekolah," ujar Riska sembari melambaikan tangan sebelum menghilang bersama motornya.

Hari yang melelahkan.

Rapat berkali-kali dengan anggota pengurus mading belum lagi mengikuti kegiatan ektrakurikuler sepulang sekolah. Aku langsung membanting tubuhku di tempat tidur begitu tiba di rumah.

Aku menatap ke atas langit-langit kamar dengan pandangan menerawang tiba-tiba saja bayangan itu muncul sekelebat lalu menghilang.

"Astaga," aku bangkit dari tidurku kemudian duduk bersila sambil memeluk bantal.

Tadi pagi aku melihat rambut dan seragamnya sedikit basah, mungkin karena menerobos gerimis saat berangkat ke sekolah. Sebenarnya aku ingin bertanya, tapi aku malu apalagi dia menyapaku terlebih dahulu.

Mungkinkah dia sudah berubah?

"Ah, tidak. Aku tidak boleh memikirkannya," aku meremas bantal dalam pelukanku dan sesekali menggigitnya untuk melampiaskan kekesalan.

Sampai sekarang masih berat bagiku untuk melupakannya apalagi untuk melepas dia pergi. Tidak pernah sedetik pun aku tidak memikirkan dia hingga kini.

Itu sebabnya aku memilih untuk menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di sekolah atau melampiaskan hobi travellingku untuk melupakannya.

Tapi ketika aku sendiri, bayangan itu tetap tidak mau pergi.