Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Bukan Senja atau Lelucon Semata



Sekian lama aku hanya fokus menunggu angin, sejak pagi hingga siang menjelang angin itu tak kunjung pulang

Sampai semburat kekuningan muncul malu malu di atas kepala

Di bawah sini aku mengutuk diri sepanjang hari

Tuhan… kenapa tidak ada yang tinggal

Kenapa mereka semua serupa senja yang hanya sementara

Lalu pergi meninggalkan gelap dan aku

 


Ya, aku yang di setiap masa hanya mengingat satu nama

Hingga lupa bahwa bumi terus berputar mengelilingi matahari dan bulan masih setia bersama bumi

Sedangkan bumi tetap berada di porosnya hingga akhir masa

Di poros ini lah aku menemukan jejak jejak yang terlupakan

Hingga aku tidak ingat kapan kamu mulai datang


 

Bukan angin, bukan senja bukan pula lelucon semata

Kamu satu paket lengkap yang dikirimkan oleh Tuhan di waktu yang tepat


 

Menjadi satu hadiah terindah di bulan empat dan hari yang dipenuhi dengan berita hoax

Tapi kamu nyata

Kamu ada

Dan kamu lah Imam yang ku tunggu sejak puluhan windu yang lalu


 

Banyuwangi, 1 April 2020


Berhenti Di Persimpangan

<< Part 4 - Part 5 - Part 6 >>



Ketika berada di persimpangan biasanya aku bertanya pada diriku sendiri. Bukan bertanya jalan mana yang hendak aku pilih, namun bertanya apa yang akan terjadi jika aku melewati jalan yang ini dan pengalaman apa yang akan menimpaku jika aku memilih jalan yang itu.

Entahlah, hidup memang penuh dengan misteri. Yang pasti kita tidak akan mengetahui apa yang terjadi sebelum kita melewatinya. Kita juga tidak akan pernah tahu apakah kita bisa menghadapinya sebelum kita bergelut langsung ke dalamnya.

Namun manusia cenderung berhenti dan tidak melakukan apa-apa karena takut dengan sesuatu yang tidak pernah ada.

Ya, seperti yang aku lakukan saat ini. Berdiri ribuan hari di antara dua pilihan. Dua jalan. Mana kah yang harus aku pilih? Mana kah yang harus aku tempuh?

Karena tak ada jalan yang bisa membawaku mengarah padamu.



Banyuwangi, 26 Oktober 2018

Angin Apa Yang Membawamu Kembali?

<< Part 3 Part 4 - Part 5 >>


Semilir angin musim kering ini mengingatkanku pada satu janji. Kamu berujar seolah-olah pasti, seolah aku dan kamu cinta sejati. Tapi ketika aku menyadari angin itu telah tertelan ombak dan buih, aku bisa apa selain duduk terdiam di pinggir samudera. Memang aku tidak pernah kamu bawa masuk, hanya duduk di ambang pintumu. Tidak masuk tidak juga keluar. Hingga saat ini, aku menunggu di ambang pintu.

Di antara karang dan debur yang mendayu-dayu seolah lagu sendu yang sedang bergurau, sementara aku patah sepatah-patahnya.

Lalu untuk apa kamu menyapa? Sekadar menanyakan kabar dan laki-laki baruku? Dia bukan apa-apa sebab kamu masih menggangguku. Mengacaukan pikiranku dengan sekali datang lalu pergi. Khas seorang angin.

Angin apa yang membawamu kembali?
Setelah sekian lama berembus pergi.
Angin apa yang membuatmu pulang?
Meningat mungkin aku bukanlah rumah bagimu yang tak akan pernah mengucapkan selamat datang.
Sama seperti ketika kamu pergi.

Tidak ada ucapan perpisahan atau selamat tinggal yang berarti cukup sampai di sini aku tidak mau kamu kembali.

Tapi kamu datang, menyapaku meski hanya singkat. Tahukah itu cukup membuatku berharap? Tahukah, itu cukup berarti sehingga aku berani bermimpi kamu akan membawaku pergi, berembus bersama, terbang berdua ke tempat yang dulu pernah kamu sebut rumah.

Dengan caramu memanggilku walau hanya berupa nama, ya kita telah lalui beberapa masa di mana aku menjadi namaku di setiap ujarmu yang menjadikan itu indah. Lalu sesekali kamu menyapa.

“Gi.”

Itu membuatku berani bermimpi bahwa kalimat selanjutnya adalah, “Maukah kamu menikah denganku.”



Mencari Angin

<< Part 2 - Part 3 Part 4 >>

Aku berdiri di bawah butiran-butiran bening yang menyerangku. Keroyokan. Sepertinya mereka tak mampu menghadapiku satu persatu. Pengecut. Pecundang kalian. Kalau berani lawan aku dengan tombak petir milik Zeus yang kau pinjam.

Aku masih berdiri menantang hujan.

Basah semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Basah yang mengingatkanku pada rindu. Karena seriap menatap hujan yang terlintas di benakku hanya senyum nakalmu.

Kenapa kamu pergi?

Aku berlari menyusuri hujan berharap menemukan angin yang telah pergi. Jangan pergi kemarau. Tetaplah kering seperti hatiku yang gersang semenjak angin itu berembus untuk yang terakhir kali dengan membisikkan kata selamat tinggal.

Di mana lagi aku bisa mendapatkan orang sepertimu, mencari senyum yang sama nakalnya dan merindu seperti punguk yang selalu menatap bulan dari kejauhan.

Dengan apalagi aku bisa menggantikanmu.

Kalimat itulah yang selalu terkenang semenjak anginku hilang. Seolah hariku hanya dipenuhi hujan dan air mata. Di dalam ada hati yang senantiasa merindunya. Menunggunya jika saja dia menyapa dan kembali dengan kata penyesalan karena telah pergi.

Hingga ketika aku sadar aku hanya berdiri di pinggir hujan. Berada di antara kenangan dan masa depan. Masih berusaha melepaskannya satu persatu, dengan iman aku percaya setiap butiran-butiran hujan mampu membawa kenangan tentang anginku pergi. Ku lepaskan satu persatu hingga genap dan semuanya lenyap di bawah gemericik hujan menuju sungai dan bermuara di pantai. Tempat paling akhir untuk sebuah kenangan dan luka masa lalu.



Banyuwangi, 30 Maret 2017

Friday

<< Part 1 - Part 2 - Part 3 >>



“Di mimpiku kamu terlihat bahagia, aku senang. Dalam mimpiku itu kamu terlihat sibuk mewujudkan karya tanganmu jadi lebih nyata.”

Entah kenapa hari ini aku terbangun dengan sebuah pesan yang ku baca ulang. Setiap kata yang terangkai aku resapi perlahan hingga sadar, aku baru bangun diri mimpi. Ya mimpi, di hari ini meski bukan hari jumat tapi aku teringat tentang janji dan mimpi. Aku tahu meski aku tidak pernah berada di dalam mimpimu di tidur selepas sepertiga malam.

Ah dengan apakah aku harus menyebutmu? Kenangan? Jumat? 911? Atau angin?

Aku benci angin.

Seumur hidup aku berurusan dengan angin. Berembus sekejap lalu hilang selamanya. Yang ditinggalkan hanyalah gersang.

Aku berdoa, semoga kamu bukanlah angin. Tapi angin tetaplah angin. Tidak pernah kembali ke tempat pertama dia berembus.

Entah kamu ingat atau tidak.

Kita telah melewati hari di mana kita ditakdirkan bertemu meski tak pernah terselesaikan. Meski sudah dua periode terlewati tapi rasa ini belum juga menemukan kata sudah.

Semoga kamu mengerti.