Bukan Senja atau Lelucon Semata
Sekian lama aku hanya
fokus menunggu angin, sejak pagi hingga siang menjelang angin itu tak kunjung
pulang
Sampai semburat kekuningan
muncul malu malu di atas kepala
Di bawah sini aku mengutuk
diri sepanjang hari
Tuhan… kenapa tidak ada
yang tinggal
Kenapa mereka semua serupa
senja yang hanya sementara
Lalu pergi meninggalkan
gelap dan aku
Ya, aku yang di setiap
masa hanya mengingat satu nama
Hingga lupa bahwa bumi
terus berputar mengelilingi matahari dan bulan masih setia bersama bumi
Sedangkan bumi tetap
berada di porosnya hingga akhir masa
Di poros ini lah aku
menemukan jejak jejak yang terlupakan
Hingga aku tidak ingat
kapan kamu mulai datang
Bukan angin, bukan senja
bukan pula lelucon semata
Kamu satu paket lengkap yang
dikirimkan oleh Tuhan di waktu yang tepat
Menjadi satu hadiah
terindah di bulan empat dan hari yang dipenuhi dengan berita hoax
Tapi kamu nyata
Kamu ada
Dan kamu lah Imam yang ku
tunggu sejak puluhan windu yang lalu
Banyuwangi, 1 April 2020



