Showing posts with label Horror dan Creepypasta. Show all posts
Showing posts with label Horror dan Creepypasta. Show all posts

 

Pertama Kali Nyoba Bikin Riddle


Assalamualaikum....

 

Sudah lebih dari satu tahun lamanya blog ini terbengkalai, berhenti memposting cerita cerita fiksi yang biasanya idenya muncul secara absurd. Meskipun banyak sekali ide nulis yang bergentayangan di atas kepala, namun apalah daya saya cuma punya dua tangan yang tidak sanggup digunakan untuk menggapai semua keinginan.


Salah satunya untuk tetap aktif menulis fiksi di blog ini, biar tetap waras.


Seperti yang teman-teman tahu, (kalau teman-teman masih ada yang mampir ke blog ini - hiks...) saya memiliki dua blog dan pekerjaan sebagai Freelance 'Penulis Artikel' yang justru lebih sibuk ngurusin website orang daripada blog ini, sampai nggak punya waktu buat nulis fiksi.


Tapi tiba-tiba belakangan jadi tertarik banget buat nyoba bikin Riddle (sebenarnya sudah dari ribuan tahun lalu, cuma baru disempetin aja). Dan akhirnya jadilah beberapa judul Riddle yang berhasil tercipta tengah malam di kala ketidakwarasan menggerogoti jiwa hingga yang tersisa hanya asa untuk menatap jingga keesokan harinya.


FYI siklus hidup saya memang hanya eksis saat senja hingga pagi buta.


Seperti yang kita tahu, Riddle sendiri adalah Bahasa Inggris yang artinya teka teki, Riddle dibuat dengan tujuan hiburan dan biasanya memiliki banyak genre. Mulai dari humor hingga horror.


Namun sebagian besar Riddle yang kita kenal mengusung tema horror yang menyeramkan. Tidak hanya eksis dalam Bahasa Inggris, lambat laun banyak sekali Riddle berbahasa Indonesia yang bergentayangan di dunia maya.


Nah, kali ini saya akan mencoba membuat Riddle, dan karena masih belum memiliki pengalaman alias baru pertama kali mencoba, mohon maaf jika jawabannya mungkin mudah ditebak. Riddle yang saya buat memang memiliki tingkat kesulitan rendah atau easy. 


Sehingga jangan heran jika pertama kali membacanya, teman-teman bisa langsung menebak jawabannya.


Tak perlu berlama-lama lagi, mari simak Riddle pertama buatan saya ini ya. Nanti teman-teman bisa cek jawabannya di akhir cerita. 





Riddle

Judul: Kesepian


Aku tinggal bersama dengan Ayah, Ibu dan adik laki laki ku. Namun aku selalu kesepian sebab mereka tidak pernah mempedulikanku. Mereka marah dan membenciku. Setiap hari mereka mengacuhkanku, tidak ada yang mau bicara denganku, bahkan ketika aku bertanya pada mereka.


Ibu sepanjang hari menghabiskan waktunya di tempat tidur, sedangkan Ayah hanya duduk saja sambil nonton film kartun.


Hanya tersisa adik laki laki yang bisa diajak bermain, namun dikarenakan sesuatu dia tidak bisa aku ajak berbicara.




Nah, sudah mulai bisa menbak jawabannya?


Sebelum teman-teman memeriksa jawaban yang benar di bawah ini, sekadar mengingatkan dulu saya juga sempat membuat Riddle namun dibalut dengan gaya Flashfiction biar tidak terlalu singkat.


Baca Selengkapnya, jika teman-teman penasaran  Di Balik Menghilangnya Sari.


Pada Riddle tersebut sengaja saya tidak memberitahukan jawabannya, namun rupanya ada beberapa orang yang berhasil mengetahui jawabannya dengan tepat.


Ya, jawabannya adalah Ana dan Tunangan Sari lah yang sengaja menenggelamkan Sari ke salah satu Pantai yang ada di Selatan Pulau Jawa, agar mereka bisa bersama. Lalu menjadikan mitos setempat mengenai Ratu Pantai Selatan sebagai salah satu alibi untuk menutupi kejahatan yang telah mereka perbuat.


Biar tidak semakin penasaran, berikut ini adalah jawaban dari Riddle: Kesepian, cek jawaban teman-teman, benar nggak ya?





Jawaban :

 

Ibu dan Ayahnya telah meninggal dan kini hanya berupa jasad. Ibu hanya berbaring di tempat tidur sepanjang hari, sedangkan Ayah nonton film kartun, bapak bapak mana yang masih suka nonton film kartun di tv, kecuali dia tidak bisa mengganti saluran tv nya alias sudah meninggal.

 

Si aku adalah Psikopat gila yang sudah membunuh ibu dan ayahnya. 

 

Kini dia menyekap adik laki laki nya, menyumpal mulutnya untuk disiksa demi kesenangannya.


Assalamualaikum....

Sudah lama ya rasanya nggak bercuap-cuap, tapi biasanya saya bercuap-cuap kalau lagi galau loh, eh tapi sekarang juga masih galau sih, galau forever karena belum bisa move on. Eaaaaaaaa. Lupakan masalah move on.

Kali ini saya mau curhat mengenai salah satu pengalaman menarik yang sering saya alami sejak masih kecil, tapi selama ini saya selalu menampiknya dan menganggap, ah... itu mah cuma halusinasi.

Lalu kemudian saya melihat salah satu vlog dari Juliana Stephanie yang waktu itu lagi kolaborasi bareng Filo Sebastian. Sebenarnya saya kurang tahu siapa sih Filo Sebastian ini, apakah dia indigo atau semacamnya, entahlah. Kalau si Julie sih sering lihat di LDP atau video tutorial make upnya.

Nah, tapi tiba-tiba dia membahas seuatu yang membuat saya tertarik, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan mahluk tak kasat mata gitu. Dan ketika saya melihat videonya, saya jadi merasa senasib karena sering merasakan hal yang sama yang dialami oleh Julie. Hanya saja selama ini saya diam dan menganggap, ah cuma halusinasi, lagi capek mungkin dan tentu saja takut dianggap mengada-ngada kalau cerita sama orang lain. Persis dengan yang dibilang Filo. Nah, kalau kalian pengen lihat videonya seperti apa, kalian bisa lihat di bawah ini!



Sudah lihat kan, videonya. Mari lanjutkan untuk membaca cerita saya. Sama seperti Julie, saya sedikit bingung dengan diri saya sendiri, apakah saya hanya takut, paranoid atau sebenarnya saya sensitif. Karena saya sering merasakan sesuatu yang aneh namun berusaha untuk menganggapnya biasa saja dan cuma ah, yaudahlahnya cuma halusinasi atau saya sendiri yang paraoid.

Jadi nih, saya sering banget mengalami hal-hal yang diluar nalar manusia, sama seperti yang pernah dirasakan oleh Julie dan dijelaskan oleh Filo. Pokoknya hampir mirip-mirip gitu lah, makanya saya akhirnya berani bercerita di sini. Dan selama ini semua pengalaman itu saya anggap biasa aja lah, nggak terlalu memikirkannya dan akhirnya berlalu begitu saja.

Mari simak ya, pengalaman apa saja yang pernah saya alami selama ini. Dari mulai gangguan ringan hingga cukup berat karena berhubungan dengan sentuhan. Saya bagi dalam dua part untuk tulisan ini biar nggak terlalu panjang. Kita mulai dari pengalaman ringan yang saya alami sejak beberapa tahun silam.


1. Barang Barang Suka Menghilang Sendiri Dan Kembali


Salah satu pengalaman tak masuk logika yang saya alami adalah, menghilangnya barang-barang secara misterius dan kembali sendiri justru di tempat yang nggak wajar. Sering banget nih, ngalamin ini. Saya nggak tahu apakah mereka benar-benar bisa menyentuh bahkan memindahkan barang tapi itu yang saya alami dan ini nyata. Nggak bohong apalagi dibuat-buat. Jadi keluarga saya sudah pindah rumah 5 kali dari saya kecil hingga dewasa ini, dan setiap rumah punya cerita tersendiri. Di rumah ke 4 yang saya tinggali, saya sering banget mengalami hal-hal aneh seperti barang berpindah sendiri dan tahu-tahu muncul di tempat yang aneh dan nggak mungkin bisa berpindah sendiri di sana. Yang pertama adalah smartphone milik Ibu. Jadi ceritanya Ibu dan Bapak baru pulang dari Bali, tengah malam mereka baru nyampe, terus ponsel miliknya dia ingat diletakkan di meja yang terletak di ruang tengah, saya pun lihat. Bapak juga lihat. Tapi besoknya benda itu lenyap dan baru ketemu dua minggu berikutnya di lemari yang terletak di gudang. Siapa coba yang iseng meletakkannya di situ?

Nggak hanya itu saja, smartphone milik saya juga pernah lenyap dan tahu-tahu ada di dalam sarung bantal. Masuk akal nggak? Smartphone itu ketemu karena dimiscall sih, sementara punya Ibu nggak bisa dimiscall sebab batrainya lowbat. Selain itu, anting yang saya kenakan di telinga sebelah kanan juga pernah hilang, dan dua hari berikutnya ketemu di dalam tas. Padahal saya nggak ngerasa melepasnya gitu, nggak mungkin kan jatuh sendiri dengan epic masuk ke dalam tas selempang yang biasanya saya gunakan di sebelah kiri. Menurut kalian gimana?



2. Mendengar Suara Aneh


Saya pernah mengalami apa yang dialami Julie. Samar-samar saat tertidur di depan teve, memang keadaannya sudah tengah malam. Tiba-tiba seperti ada seorang anak kecil berada di sebelah saya dan mereka tertawa. Pada saat itu badan saya nggak bisa digerakin, hingga akhirnya berusaha untuk bergerak dan ketika saya membuka mata, ternyata nggak ada apa-apa di sekeliling saya. Dan sampai kemarin saya masih percaya itu cuma halusinasi hingga akhirnya mendengar penjelasan Filo. Kejadian ini masih saya rasakan di rumah ke 4. Dan puncaknya ketika samar wulu (senja menjelang Magribh) ada seseorang yang ke rumah, dan memanggil nama saya. Ada yang jawab loh, padahal waktu itu saya lagi pergi ke rumah nenek dan kondisi rumah lagi sepi karena Bapak dan Ibu sedang pergi ke Jakarta. Pengalaman ini pernah saya  bagikan ke dalam sebuah cerita yang pernah saya posting di blog ini juga. Nih, buat kalian yang belum baca atau ingin baca lagi Suara Dari Dalam Rumah. Masih kurang aneh? Coba baca yang berikutnya.



3. Depresi Sendiri Entah Kenapa



Saya percaya, kita memiliki energi dan mereka pun memiliki energi, ada yang positif dan ada yang negatif. Energi positif biasanya hanya akan membuat saya merasakan keberadaan mereka namun masih bisa nyaman di tempat tersebut. Akan tetapi jika energinya negatif maka yang saya rasakan adalah ketidaknyamanan, gusar dan bahkan depresi. Ini yang pernah saya rasakan ketika menempati rumah ke 3. Di kamar yang berada di depan dan dekat dengan sebuah sumur tua. Katanya sih, sumur itu agak angker dan saya memang pernah melihat sekelebat, entah itu apa. Pokoknya warna putih dan lewat dengan cepat, saat saya menutup tirai jendela pukul 12 malam. Maklum imsomnia akut yang jarang tidur, jadi mangsa empuk deh. Nah, selama saya menempati kamar tersebut, hampir setiap malam saya jadi nggak bisa tidur. Dan baru merem sekitar pukul 4 pagi. Nggak hanya susah tidur, setiap malam di kamar itu saya merasakan sesuatu yang negatif. Bawaannya pengen nangis, dan nangis beneran semalaman dan saya nggak tahu apa masalahnya, apa penyebabnya, padahal saya dalam kondisi baik-baik saja tidak sedang mengalami tekanan apa pun. Tapi entah kenapa selama 2 bulan menempati kamar itu, yang saya rasakan hanya keterpurukan dan nyaris seperti orang depresi. Kejadian tersebut nggak berlanjut karena saya memutuskan untuk pindah kamar.

Ibu saya pun nggak nyaman berada di kamar itu, dan kebetulan Tante saya memang bisa melihat hal-hal aneh, mengaku ada mahluk dengan energi negatif mendiami sudut kamar itu.



Gimana menurut kalian? Apa ada dari kalian yang pernah mengalaminya? Atau malah nggak percaya dengan hal-hal begini dan mungkin menganggap saya cuma halusinasi atau paranoid sendiri. Terserah deh, karena sejujurnya sampai sekarang saya sendiri pun bingung. Dan hal-hal seperti ini emang nggak bisa dijelaskan dengan logika sehingga manusia nggak tahu pasti dan nggak harus benar-benar meyakininya. Akan tetapi kita nggak bisa melupakan fakta bahwa mereka memang ada di sekitar kita.

Ada yang pernah mengalami apa yang saya alami? Coba deh, bagikan pengalaman kalian, biar bisa sharing bareng ya!




Dia mendengar suara langkah kaki berjalan menaiki anak tangga. Buru-buru dia bersembunyi di bawah tempat tidur. Bukan hanya satu bahkan lebih dari dua orang berjalan menuju lantai dua rumahnya. Mereka memeriksa satu-persatu ruangan dan membuka pintu dengan sedikit kasar.

"Kali ini aku pasti mati, aku tidak mau masuk penjara," batinnya dalam hati. Hanya ada tiga ruangan di lantai ini dan ruangan tempat dia bersembunyi berada di paling ujung. Tinggal menunggu waktu sampai mereka tiba dan menemukannya.

"Aku tidak membunuhnya. Aku bukan seorang pembunuh," mulutnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra. Dua telapak tangan penuh darah segar itu bergetar, bahkan dia masih memegang pisau yang juga berlumuran darah. Dia melemparkannya begitu sadar.

Tidak akan ada yang percaya bahwa ini semua hanya kecelakaan. Dia tidak bermaksud akan menggunakan pisau itu apalagi untuk membunuh.

Kejadian yang terjadi tempo hari ketika pemuda yang selalu menindas dan meminta uang setiap kali dia lewat gang kecil satu-satunya jalan menuju rumah sepulang sekolah, terus memaksa meskipun dia sudah berulang kali bersumpah bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang. Tapi kepalan tangan pemuda itu justru mendarat tepat di kelopak matanya.

Saat pemuda itu merampas tas dan memeriksa isinya untuk mengambil apa saja yang ada di dalam tas tersebut, dia mengeluarkan sebilah pisau dapur dari saku celana yang sudah dia persiapkan sejak dari rumah.

Dia mengacungkan pisau ke arah pemuda itu dan mengancam akan menusuknya jika pemuda itu mendekat.

"Ayo tusuk aku kalau kamu berani! Pasti nggak berani kan," pemuda itu tertawa dan melempar tas tepat ke arah wajahnya.

Refleks dia menghindar tapi pemuda itu mengambil kesempatan dengan menendang pergelangan tangannya hingga pisau terjatuh ke tanah. Dia mulai membungkuk berusaha mengambil pisaunya tapi pemuda itu kembali menendangnya kali ini tepat di pinggang hingga tubuhnya jatuh.

Dengan cepat pemuda itu meraih tubuhnya dan mulai memukulnya, dia hanya terbaring di tanah menerima pukulan pemuda itu di seluruh wajah. Sementara tangannya mulai meraih pisau yang hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuhnya.

Setelah beberapa menit dia berusaha meraih pisau itu, akhirnya dia dapat mengambilnya dan dan menusukkannya tepat pada perut pemuda itu.

Darah segar mengalir dan mengotori seragam putih abu-abunya. Dia mendorong tubuh pemuda itu ke tanah dan membiarkannya tergeletak merenggut nyawa.

Dengan ketakutan dia berlari cepat menuju rumah hingga tidak memperhatikan jalan ketika ingin menyebrang dan tidak melihat sebuah mobil yang melintas dari arah berlawanan.

Mobil itu berhenti secara mendadak ketika dia dengan ceroboh melompat untuk melewati mobil tersebut.

"Astaga," seru lelaki yang berada di dalam mobil.

***



Suara langkah kaki itu semakin mendekat sepertinya sudah berada di depan pintu kamarnya. Terdengar mereka berusaha membuka pintu tapi karena terkunci mereka memanggil Ibu untuk membukanya.

Setelah pintu berhasil terbuka tiga orang lelaki bersama Ibu masuk ke dalam kamarnya dan memeriksa sekeliling hingga membuka jendela kamar. Terjadi perbincangan di antara mereka. Beberapa di antaranya menanyakan tentang dirinya dan kegiatannya sehari-hari.

Ibu hanya menjawab tidak tahu sebab dirinya terlalu sibuk sehingga kurang mengenal putranya sendiri.

Tak lama kemudian mereka keluar dari kamar karena salah satu dari mereka mengatakan mencium aroma busuk. Ketiga lelaki itu pergi setelah memberikan kartu nama pada Ibu. Kini saatnya dia keluar dari persembunyian.

Dia berjalan mengendap-endap keluar dari kamar dan memperhatikan sekeliling, siapa tahu orang-orang itu masih berada di sana. Namun dia seperti mendengar suara perempuan menangis dari lantai bawah rumahnya. Suara Ibu. Dia bergegas turun dan berharap Ibu percaya atau mungkin dapat membantunya.

Ibu duduk dengan kedua tangan menutupi wajah menghadap sebuah peti coklat mengkilat.

"Ibu," bisiknya.

Ibu masih menangis di balik telapak tangannya.

Dia berjalan mendekati Ibu namun rasa penasaran membuatnya melempar pandang ke arah peti untuk melihat apa isi di dalamnya. Dia melompat beberapa langkah ke belakang merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Tubuhnya berada di dalam peti itu, berbalut kain putih, terbujur kaku.



Sungai kecil tempat Juni mencelupkan kedua telapak kakinya. Dingin. Bening seperti kaca. Bahkan dia bisa melihat bukit-bukit kecil yang berada di belakangnya. Muncul juga senyum si jahil yang baru beberapa detik datang dan duduk di batu kecil di samping tubuhnya. Begitu dekat. Hingga rasanya seperti mereka satu tubuh dengan dua pikiran yang berbeda.

"Dingin," bisik Jean sambil mengusap-usap lengannya.

Juni memeluk Jean yang mengigil kedinginan dan bisa merasakan tubuhnya bergetar.

"Kamu selalu saja kedinginan."

"Aku kedinginan, karena sudah tidak ada yang mau memelukku sekarang."

Juni menatapnya iba.

"Aku akan selalu bersamamu, kamu tahu kan," Juni memeluk Jean lebih erat agar dia tidak lagi merasa kedinginan.

"Bukan. Akulah yang akan selalu bersamamu, bersama Ayah dan Ibu. Meskipun mereka mungkin tidak menyadarinya."

Ketika menatap Jean, Juni seperti sedang berada di depan cermin. Menatapnya sama seperti melihat dirinya sendiri. Tidak ada bedanya. Bahkan mereka sama-sama memiliki tanda lahir di punggung tangan yang berbentuk sebuah bibir.

Jean menjulurkan tangannya dan memperlihatkan tanda lahirnya, disusul dengan Juni yang juga memperlihatkan tanda lahir yang sama. Mereka tersenyum.



"Juni!" seru Ayahnya yang sedang berdiri di pinggir sungai melambaikan tangan ke arahnya.

Juni berdiri dan berjalan berjingkat di atas bebatuan yang tersebar di sepanjang sungai.

"Ayo pulang!" Ayahnya memeluk tubuh Juni dari samping. "Sebentar lagi acara patang puluh dina adikmu Jean, akan dimulai."





Banyuwagi, Oktober 2016


(Patang Puluh Dina = Peringatan 40 hari kematian)






Perlahan langit mulai gelap setelah matahari tertutup awan atau kembali ke peraduan, entahlah apa istilahnya yang ku tahu ini adalah fenomena pergantian siang menjadi malam.

Aku berjalan sedikit mempercepat langkah di jalan kecil berpasir menuju rumah salah satu sahabatku, Gigi. Ada janji mengerjakan tugas bersama petang ini di rumahnya.

Suara adzan samar-samar terdengar membuatku semakin bergegas untuk segera sampai, kata orang tua pamali magribh begini berada di luar rumah.

Rumah Gigi terlihat sepi, pagar kecil setinggi pinggang orang dewasa yang sebagian telah berkarat menimbulkan suara 'ngik' mengerikan ketika aku sedikit menggesernya agar bisa masuk ke dalam pekarangan rumah Gigi yang cukup luas.

Taman kecil yang ditumbuhi beberapa pohon rambutan dan sawo, serta puluhan pot bunga yang berjajar di depan teras rumahnya. Ayah dan Ibu Gigi memang suka sekali berkebun, berbeda dengan Gigi yang lebih sering bermalas-malasan saat akhir pekan.

"Gigi..." teriakku begitu sampai di teras rumahnya. "Gi, buka dong pintunya."

"Iya, Ris bentar."

Mendengar suara Gigi aku berjalan semakin mendekat dan menyandarkan bahu di depan pintu, karena ku pikir sebentar lagi Gigi pasti keluar untuk membuka pintu rumahnya.

Namun hingga menunggu beberapa menit pintu tidak kunjung terbuka. Gigi mana ya? Hingga akhinya ku putuskan untuk berteriak memanggilnya lagi.

"Gigi..."

Namun kali ini tidak ada jawaban. Suasana semakin gelap dan sepi. Aku ingat Ayah dan Ibu Gigi sedang pergi ke Jakarta sejak beberapa hari yang lalu jadi dia sekarang sendirian di rumah. Ku putuskan untuk mengintip jendela kaca besar yang sedikit tertutup oleh korden berwarna merah. Rumahnya kosong.

"Gigi," panggilku sekali lagi.


"Riska, sudah dari tadi di sini?"

Tiba-tiba saja Gigi muncul dari belakangku membuka pintu gerbang rumahnya.

"Loh, terus tadi yang di dalam rumah siapa?"






"Belum tidur?" suara Jean membuat Juni menengok ke arahnya yang sedang tidur di sebelah Jean, dengan menangkupkan kedua tangan di atas perutnya Juni mendesah.

"Belum, kamu sendiri belum tidur?" Juni balas bertanya

Semenjak mendengar suara-suara aneh yang selalu muncul menjelang tengah malam kini, Jean juga ketularan insomnia.

"Aku nggak bisa tidur," ujar Jean berbisik pelan.

"Gara-gara suara itu?" Juni menelengkan kepala, menatap mata Jean yang terlihat ketakutan. Kasihan.

"Iya, nyeremin banget deh rumah ini. Kamu juga takut kan, sama suara itu?"

Juni menggeleng, "I'm jealous of people who can go to sleep seconds after closing their eyes."

"Oh, iya kamu kan insomnia akut," timpal Jean.

"Terus sekarang kamu ketularan, sejak kita pindah rumah."


Belum genap satu minggu Jean dan Juni beserta keluarganya pindah ke rumah baru. Meskipun mereka kembar identik tapi Jean dan Juni memiliki insting yang berbeda. Jean menikmati saat hari pertama mereka tiba di rumah baru dengan berlarian sepanjang halaman rumah yang jauh lebih luas dibanding rumah lama mereka. Sementara Juni tertarik dengan sumur tua yang berada di sebelah rumah. Mungkin jaraknya hanya beberapa meter dari kamar mereka.

Suara itu kembali muncul, delapan menit menjelang tengah malam. Jean masih sibuk menebak dari mana asal suara tersebut, Juni bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Ketika suara itu berhenti terdengar, Jean membuka selimutnya dan berlari kecil ke arah Juni.

Mereka menajamkan telinga dan kembali mendengar suara-suara aneh. Kali ini suara wanita tertawa melengking lalu menjerit. Suasana seketika berubah mencekam.

Refleks Jean menggenggam lengan Juni dan menangkupkan kepalanya di punggung Juni. Tubuhnya bergetar.

Sementara Juni masih penasaran dan ingin mencari tahu asal suara, ketika hendak membuka pintu Jean menarik lengannya dan menggeleng.

Tapi Juni tidak peduli, dia tetap membuka pintu kamar mereka dan berjalan setengah berjinjit. Ada cahaya putih dan terang yang berasal dari ruang tengah, tapi hanya beberapa detik gelap lagi.

Juni meraba tembok sebagai petunjuk berjalan dalam gelap. Hanya beberapa langkah hingga terdengar suara seorang wanita berteriak.

"AAARGGGGGGGHHHHH...."

Juni dan Jean juga berteriak.




"Kalian belum tidur?"

Ternyata Ayah sedang menyaksikan film horor tengah malam.




Banyuwangi, Juli 2016





Jake berjalan dengan langkah perlahan, dia tahu pasti jika tidak berhati-hati jalan licin akibat tertutup salju bisa membuatnya terjatuh. Angin dingin berembus membuatnya menaikkan kerah parka kulit domba yang dikenakannya. Badai salju kali ini merupakan yang terparah. Mungkin karena tempat ini berjarak begitu dekat dengan Great Salt Lake dan terkenal sebagai daerah dengan musim dingin terparah di Utah.

Malam ini mau tidak mau dia harus keluar, memeriksa truknya dan menutup bak truknya dengan terpal agar terlindung dari salju. Setelah memastikan semuanya aman, dia kembali berjalan sangat hati-hati. Jejak langkahnya di atas salju menghilang tertiup angin malam.

Dingin sekali. Jake berharap Alec sudah menyiapkan coklat panas dan mereka bisa menyaksikan pertandingan rugby di siaran teve lokal.

Tiba-tiba saja terdengar suara isakan seseorang meminta tolong, semakin lama semakin jelas. Jake berhenti dan memeriksa jalan kecil tertutup salju di depannya. Badai tidak memungkinkan Jake hanya mengandalkan penglihatan matanya, dia mengarahkan senter tepat ke arah jalanan sunyi bersalju.

Tidak ada apa-apa. Gumamnya. Namun suara itu muncul lagi dan menjadi semakin jelas. Akhirnya Jake memutuskan untuk pergi memeriksanya. Dia berjalan perlahan di atas tumpukan salju yang licin. Matanya menajam memastikan apa yang didengarnya mungkin hanya deru angin. Karena jalan ini kosong dan sunyi. Bahkan lampu di seberang jalan juga mati.

Ketika Jake merasa semuanya baik-baik saja, dia berbalik dan alangkah terkejut ketika mendapati seorang gadis berdiri bersimbah darah di depannya.

"Astaga. Apa kau baik-baik saja?" tanya Jake dengan cemas.

Gadis itu tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dan badannya terlihat lemas. Jake menduga dia diserang serigala atau hewan buas yang seringkali turun dari gunung saat badai seperti ini.

"Apa kau baik-baik saja?" Jake mendekati gadis itu dan memegang pundaknya.

Namun tiba-tiba gadis itu menengadahkan kepala, wajahnya pucat pasi dan terlihat darah memenuhi mulutnya. Gadis itu bahkan meraih tangan Jake dan mengigitnya hingga berdarah.

Jake berteriak. Meronta. Tapi embusan badai lebih berisik dari suaranya.

Arggghhh... Jake melepaskan gadis itu dari tangannya. Namun terlambat, punggung tangannya telah membentuk luka lebar dan darah mengalir tanpa henti.

Terlihat wajah puas dari gadis itu menyeringai ke arahnya, menunjukkan gigi-gerigi tajam dipenuhi darah segar. Dengan langkah gontai gadis itu mendekati Jake dan melompat ke arahnya.

Jake berlari secepat mungkin, tapi tumpukan salju memperlambat gerakannya. Sementara gadis atau lebih tepatnya monster itu terus mengejarnya dengan gerakan yang lebih cepat dan ringan. Dia berlari menyebrangi jalanan sepi, dan tiba-tiba.

BRAK.

Sebuah truk pengeruk salju menabrak sesuatu. Dan moster itu lenyap.

Seorang pria paruh baya turun dari truk dan menghampirinya.

"Apa kau baik-baik saja?"

Jake masih terpukul. Dia terus memperhatikan ke arah truk pengeruk sampah, memeriksa apakah monster itu masih di sana. Tapi sepertinya mahluk itu telah pergi, mengilang, lenyap atau apalah. Yang jelas tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

"Tanganmu terluka," ujar pria itu yang mengira tangan Jake terluka karena tertabrak truknya.

"Tidak. Aku baik-baik saja."

"Serius? Apa kau butuh ke Rumah Sakit?"

"Tidak. Tidak usah aku baik-baik saja."

Pria itu menatap Jake dengan aneh, kemudian meninggalkannya bersama sebuah kartu nama, jika terjadi sesuatu yang serius Jake boleh menghubunginya.
***


Setelah badai semalam, langit terlihat sangat cerah. Jake mengintip dari jendela kamarnya, terlihat Alec sedang membersihkan jalan di depan rumah mereka dari tumpukan salju menggunakan skop.

Pekan depan Alec akan pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan tempat kerjanya. Itu artinya tidak akan ada yang membuatkan coklat panas untuknya dan tidak ada yang membersihkan jalanan dari tumpukan salju.

Jake meringis kesakitan. Luka bekas gigitan semalam masih terasa sakit sampai saat ini, meski sudah diobati dan dibalut perban. Dia baru sadar kulit tangannya membiru hingga siku. Astaga mungkinkah dia terkena infeksi. Dan rasa sakit mulai menjalar tidak hanya di tangannya tapi di sekujur tubuhnya.

Tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku dan membiru, dia merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Terlihat dari pantulan cermin jendela kamarnya, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. Bola matanya mengecil dan berwarna abu-abu.

Jake juga merasakan nafsu makan yang aneh. Dia membayangkan daging segar yang masih dilumuri darah merah, dengan sedikit timbunan lemak yang lembut.

Tiba-tiba saja dia melihat ke arah Alec yang melambaikan tangan begitu menyadari kehadirannya.

"Aku lapar."